Sabtu, 02 November 2013

Bab 1

Saat ini aku tak tau berada dimana. Hanya ada cahaya putih yang menyinari tempat ini. Dan aku seperti berdiri di sebuah awan yang dikelilingi langit yang sangat terang. Entah tempat apa ini. Aku makin bingung dengan pakaianku saat ini. Aku memakai long dress putih selutut dan bandana putih. Rambutku terurai panjang. Aku berlari dan melihat di sekelilingku. Disana tak ada seorang pun yang kulihat. Hanya ada aku seorang diri. Aku panik dan ketakutan. Mengapa aku bisa ditempat ini? Dan mengapa aku memakai pakaian ini? masih banyak lagi pertanyaan yang aku lontarkan dalam hati.
Aku berhenti berlari lalu berusaha berteriak keras semampuku untuk mencari ada orang disana atau tidak. “Ada orang disana????” teriakku kencang sekali sampai bergema. Aku benar-benar ketakutan. Aku terus berputar melihat dan mengawasi disekelilingku.
Tidak ada tanda-tanda ada orang lain disini. Aku seperti berada di surga yang sangat luas dan hanya seorang diri. Tempat ini memang indah berkat langit putih yang menyinari tempat ini. Tapi, kalo sendirian disini mana aku berani? Aku kembali berlari menjauhi tempat ini. Semakin jauh aku berlari, keadaan disini tetap aja tidak ada tanda-tanda jalan keluar dari tempat ini.
Tiba-tiba aku mendengar seseorang berjalan mendekati aku dari belakang, nafasku makin tak beraturan menahan takut siapa yang akan mendekatiku. Agar terhindar dari pikiran yang tidak-tidak, aku berbalik melihat siapa dia. Mulutku ternganga saat melihat siapa orang itu. Wajahnya memang terlihat samar, tapi aku tau siapa dia. Orang yang selama ini aku tunggu-tunggu. Aku langsung memeluk Ichy, orang yang aku cintai. Itu nama panggilannya saat kecil. Aku menangis dipelukannya. Ichy hanya terdiam, mulai membalas pelukanku dan mengelus lembut rambutku.
Aku melepas pelukannya dan memegang erat tangannya. “Chy, kamu kemana aja? Kamu tau berapa lama aku nunggu kamu? 10 tahun, Chy. Bahkan satu bulan lagi genap 11 tahun aku nunggu kamu, tepatnya saat aku ulang tahun ke-17. Aku kangen sama kamu,” ujarku terus terang.
Ichy tersenyum senang, lalu mencium tanganku. “Aini, kamu tenang aja ya. Aku bakalan balik kok sama kamu. Nggak lama lagi kita akan bertemu. Aku sekarang udah pulang dari Seoul. Maaf yah aku nggak bilang sama kamu tentang kepergianku. Soalnya ini mendadak, hari itu juga aku harus rapi-rapi ke bandara. Asal kamu tau ya, aku juga kangen banget sama kamu. Makanya aku bawa kamu kesini. Kamu apa kabar?” jawabnya menenangkanku.
“Aku baik, kamu gimana? Kamu beneran udah balik? Sekarang kamu ada dimana?”
“Kabarku baik, soalnya aku pengen banget ketemu sama kamu lagi,” jawabnya gombal, aku cuma senyam-senyum aja. Sekarang tatapannya menjadi sedikit serius tapi tetap lembut. “Aku nggak bisa kasih tau keberadaanku sekarang. Kalo kita jodoh, pasti kita ketemu lagi. Bisa aja nanti kita satu sekolah, atau nggak sengaja ketemu. Tapi seandainya kamu kangen juga sama aku, kamu sering-sering yah dateng ke taman dulu kita main. Aku pasti akan nunggu kamu disana. Dan dihari kamu ulang tahun, aku harap kamu dateng ke taman jam tujuh malam. Aku tunggu! Aini, aku harus pergi sekarang. Kamu jaga diri baik-baik yah, aku selalu ada buat kamu.” Ucapnya sambil mengelus pipiku dengan tangan kanannya dan aku memegang tangannya itu.
Mataku membulat. “Ichy, kita kan baru aja ketemu. Kenapa kamu harus pergi lagi sih? Tolong jangan pergi,” pintaku memohon.
“Bye Aini sayang,” katanya terakhir dan sekarang dia telah menghilang entah kemana.
Aku melihat ke sekelilingku untuk mencarinya, tapi dia udah menghilang begitu aja. Air mataku lagi-lagi ingin keluar. Aku pun berlari sambil berteriak memanggil namanya berkali-kali dengan air mata yang mengucur deras.
“Ichy!!!! Ichy!!!! Kamu dimana?? Ichy!!!!!” teriakku.
Tiba-tiba aku terjatuh kedalam lorong yang gelap sekali dan berisik. Saking takutnya, aku menutup kedua mata. Kedengarannya seperti bunyi jam beker yang bikin sakit kuping. Dan badanku terjatuh. Kepala, lengan, punggung, dan kaki aku sakit semua. Aku membuka kedua mataku. Ternyata aku jatuh dari ranjang!! Dan bunyi beker yang berisik banget! Aku bangun sambil sesekali menguap, lalu mematikan alarm jam beker.
“Ichy? Dia ada disini? apa bener?” tanyaku sendiri.
Ohiya, tadi kan gue nangis, batinku lalu aku menyentuh pipi dan mataku. Benar!! Wajahku penuh dengan air mata. Mataku langsung membulat seketika.
“Ichy semalem datengin gue? Aaahhh gue kangen banget sama dia. Gue harus rajin-rajin ke taman nih. Dan gue nggak mau nyia-nyiain kesempatan ini,” kataku bersemangat.
“Eeeennnniiiiiiiiiiii!!!!!!!!!!!!!!!!!!” suara cowok dari balik pintu kamarku sambil ketuk-ketuk pintu.
Dia adalah kakak semata wayangku, namanya Rangga. Dia orangnya baik banget tapi usil juga. Wajah aku dan ka Rangga mirip udah kayak anak kembar. Kulit kuning langsat. Hidung juga rada mancung. Banyak deh kesamaan diantara kita. Dan sama seperti adek kakak diseluruh dunia. Kita juga sering berantem. Itu udah nggak asing lagi kalo didengar. Kak Rangga sekarang udah kuliah di Universitas Bina Nusantara.
Aku menghapus air mataku sebentar, lalu berdiri dan jalan menuju pintu untuk membukakan pintu buatnya. “Apa? Bisa kan nggak teriak-teriak?” jawabku.
Matanya terbelalak saat melihatku masih memakai pakaian tidur. Ka Rangga menatapku dari bawah sampai atas. “Hah? Elo belom mandi? Ini udah jam 06.45,” omelnya sambil menunjuk-nunjuk jam tangannya.
“Hah??” kataku kaget, lalu memegang tangan ka Rangga dan melihat jam tangannya. “Iya bener. Yah gue telat dong?”
Kak Rangga menarik nafas sebentar. “Ya iyalah. Yaudah sana mandi, tinggal lima belas menit lagi nih,” katanya.
“Iya,” jawabku sambil masuk kedalam kamar dan mengambil handuk ungu kesayanganku. Lalu berlari  ke kamar mandi.
Kak Rangga cuma bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkahku.
Aku sekolah di SMA Perwira dan sekarang duduk di kelas dua. Hari ini adalah hari pertama aku masuk di ajaran semester dua. Mungkin karena sering begadang pas liburan, hari pertama ini aku jadi telat bangunnya. Tapi nggak apa-apa deh, aku sekarang udah tau keadaannya Ichy kayak gimana. Dan dia ngajak aku ketemuan juga. Walaupun itu cuma mimpi, aku nggak mau nyia-nyiain ini semua. Bisa aja itu kenyataan, pesan dari dia buatku.
Tak lama aku selesai mandi, lalu berganti baju dan rapi-rapi sebentar dengan kecepatan lebih. Setelah selesai, aku turun kebawah dan menuju ruang makan sambil berlari. Disana udah ada mama, papa, dan kak Rangga. Mereka semua baru aja selesai sarapan.
“Sayang, kamu nggak sarapan dulu?” tanya mama saat melihatku begitu tergesah-gesah.
Aku meneguk segelas susu coklat kesukaanku yang udah disiapkan. “Susu udah cukup kok, ma. Kak, jalan sekarang yuk! Buru-buru,” kataku setelah semua susu udah masuk tenggorokan.
Kak Rangga pun mengambil tasnya. “Pa, Ma, aku berangkat dulu ya,” salam kak Rangga lalu berjalan menuju garasi mobil.
“Ma, Pa, aku berangkat ya,” salamku juga lalu berlari menyusul kak Rangga.
“Hati-hati dijalan,” teriak mama dan papa.

***

Aku menutup pintu mobil yang terparkir depan gerbang sekolahku.
“Bye ka,” ucapku lalu berjalan menuju pintu gerbang sekolah.
“Bye,” jawab kak Rangga lalu mengegaskan mobilnya pergi dan melaju ke kampusnya.
Ternyata masih banyak siswa yang ada diluar kelas, itu udah terlihat dari depan gerbang. Ada yang baru dateng sama sepertiku, ada yang asik main basket, ada yang asik ngobrol, dan masih banyak yang lain.
Ccccclllllllaaaaaaakkkkkkkk!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Cipratan air mengenai kaki, kaos kaki, dan sepatuku. Aku pun berhenti berjalan. Ini gara-gara seseorang yang masuk ke dalam sekolah barusan. Dia memakai motor ninja hijau, dan dia terus aja masuk ke dalam menuju parkiran tanpa merasa bersalah padaku. Mataku terbelalak saat melihat tingkah orang itu, nggak tau sopan santun sama sekali. Bahkan sekarang sepatuku kotor gara-gara dia. Saking kesalnya aku menghentakkan kaki.
“Dasar cowok sialan! Ini kan hari pertama masuk sekolah, masa sepatu gue udah kotor aja sih! Liat aja lo nanti gue bales,” kataku kasar, lalu melanjutkan jalan masuk ke sekolah dan menuju toilet.
Sesampainya di toilet, aku membersihkan sepatu, kaos kaki, dan kakiku dengan tisu yang udah dibasahi air. Tiba-tiba Fika keluar dari balik salah satu pintu di toilet. Fika ini sahabatku sejak masuk sekolah ini.
“Ni, elo kenapa? Terus kenapa tuh sepatunya? Kok udah kotor aja?” tanyanya.
“Tadi kecipratan air gara-gara cowok sialan yang nggak punya urat buat minta maaf,” dumelku.
“Yaudah, gue keluar duluan ya. Gue tunggu depan,” ucapnya lalu berjalan keluar toilet.
“Iya,”
Tak lama sepatuku udah agak bersih, aku pun keluar dari toilet. Disana udah ada Fika yang nungguin, udah kayak satpam kamar mandi. Hihihi...
“Fik, kok belom pada masuk kelas sih? Padahal kan ini udah jam delapan?” tanyaku sambil berjalan menuju kelas bersama Fika.
“Hari ini kan hari pertama masuk, terus otak kita masih belom bisa nerima pelajaran. Yaudah hari ini cuma maen aja. Baik banget kan pak Tono? Hhaha,” jawabnya senang. Pak Tono itu kepala sekolah di sekolahku.
Aku manggut-manggut mengerti. Tiba-tiba aku teringat dengan mimpi semalem. “Fik, masa gue semalem mimpiin Ichy. Sahabat kecil gue dulu yang pergi nggak tau kemana itu,” jelasku.
“Mimpi? Mimpi kayak gimana?” tanyanya penasaran.
“Dia bilang, dia selama ini pergi ke Seoul dan sekarang dia udah balik ke Jakarta. Dia minta gue sering-sering ke taman kalo mau ketemu sama dia. Dan dia ngajak ketemuan di taman itu pas gue ulang tahun,” terangku senang.
“Tapi kan itu cuma mimpi, Ni? Lo percaya? Terus emangnya elo tau tampang dia sekarang kayak gimana? Nanti kalo elo salah orang gimana? Kan banyak cowok yang sering maen di taman itu,” ujar Fika tak yakin, dan membuatku berfikir lagi.
“Iya sih cuma mimpi, tapi gue yakin kok dia kangen sama gue dan nitip salamnya lewat mimpi gue,” jawabku.
“Emang sih kalo kita mimpiin orang, dia lagi kangen sama kita. Tapi elo beneran percaya sama yang begituan? Nanti kalo cuma mimpi asal doang gimana? Sama aja elo nunggu harapan palsu,” jelas Fika.
“Gue juga masih nggak tau ini bener atau cuma mimpi asal aja. Tapi gue udah kangen banget sama dia. Elo tau kan kepergian dia bikin gue sakit banget? Sampe gue sakit berbulan-bulan dulu? Jadi, gue nggak mau sia-siain ini, Fik,” kataku sedih.
Fika merangkulku. “Oke deh, gue tau rasa kangen elo nggak bisa terbayar dengan apapun. Sama Ilham yang selalu deketin elo pun tetep aja nggak bisa ngilangin rasa sayang dan kangen lo sama yang namanya Ichy Ichy itu,”
“Udah deh, Ilham nggak usah dibawa-bawa. Gue males dengernya,”
Fika hanya tertawa. “Hahaha... iya deh. Lagian elo nggak kasian apa sama dia? Dia udah ngejar elo kemana-mana, Ni. Udah gitu dia selalu kasih hadiah buat elo. Lo masih nggak mau sama dia? Tega banget lo, hahaha,” ujar Fika sambil mencolek pipiku.
“Gue kan masih nungguin Ichy, Fik. Lagian gue juga nggak suka sama Ilham,” jawabku jutek.
“Nggak usah jutek juga kali, Ni. Biasa aja! Hehe.. oke deh ya, kalo elo masih sayang banget sama Ichy, elo kejar aja terus. Jodoh nggak kemana kok,”
Aku menepuk punggung Fika. “Gitu dong.. itu baru yang namanya sahabat terbaik gue, hahaha,”
“Nggak usah nepuk berapa sih?” katanya jengkel.
“Maap neng,”
“Oh iya, dikelas kita kan ada siswa baru. Ada dua orang, cowok dua-duanya. Mereka pindahan dari luar negeri. Keren ya?” ucap Fika menjelaskan.
“Mereka temenan? Kok bisa barengan gitu?” tanyaku bingung.
“Nggak tau deh,” jawab Fika sambil mengangkat bahu.
Tanpa disangka udah sampe kelas aja setelah obrolan aku dan Fika yang panjang lebar itu. Aku pun duduk ditempatku sendiri, begitu juga Fika yang duduk disampingku. Tiba-tiba ada seorang cowok datang menemui aku dan Fika. Sebelumnya aku belum pernah ngeliat cowok ini disekolah. Apa mungkin dia anak baru itu?
“Hai, boleh kenalan? Gue siswa baru disini. Gue nggak ada maksud apa-apa kok. Gue cuma mau nyari temen aja,” ucapnya.
Fika yang sejak tadi memandang cowok itu dengan tatapan aneh, sekarang terlihat raut wajah yang sumringah banget. “Iya iya. Nggak apa-apa kok,” jawab Fika, lalu menjulurkan tangannya. “Kenalin gue Fika, elo?” ujar Fika memperkenalkan diri.
“Gue Bisma,” jawabnya sambil menyalami uluran tangan Fika, lalu tatapannya beralih padaku yang diam aja. “Nama lo siapa?”
“Gu......” kata-kata ku terhenti saat Fika segera mengambil alih pertanyaan dari Bisma.
“Dia Nuraeni, sahabat gue. Panggil aja Eni,” jawabnya bersemangat, dan aku cuma bisa manggut-manggut kepala aja.
Fika asik ngajak Bisma ngobrol bareng, aku malah ogah. Aku cuma bengong kayak orang bego aja. Tiba-tiba aja aku keinget tentang cowok tadi yang udah seenaknya ngotorin sepatu aku.
Kok motor itu baru gue liat ya? Biasanya yang punya motor ninja disini itu warnanya merah, nggak ada yang hijau. Berarti kalo dipikir-pikir bisa ketauan dong siapa pemilik motor itu? Oh iya, kenapa nggak gue bales aja? Motor ninja hijau di sekolah kan cuma dia yang punya, jadi bisa gue kerjain nih.. , batinku sambil tersenyum licik.
Bisma yang menatapku, kebingungan sama tingkahku barusan. Udah bengong nggak jelas, sekarang senyumnya udah kayak orang jahat. Dia pun mencoba menyadarkanku, tanpa memperdulikan ocehan Fika barusan.
“Ni, elo nggak apa-apa kan? Masih sehat?” tanyanya.
Aku pun tersadar, lalu menoleh padanya dan tertawa. “Hahaha... gue nggak apa-apa kok,”
“Nah loh? Kok sekarang ketawa? Lo beneran nggak apa-apa?” tanyanya lagi meyakinkan.
“Ya elah Bis, dia mah sering aneh kayak gitu. Nggak usah diperduliin amat ah. Lanjutin ngobrolnya aja ya! Elo kenapa pindah kesini?” ucap Fika.
“Oke deh. Gue pengen pulang aja ke tempat asal gue di Jakarta, nggak enak tinggal ditempat orang terus. Hehe..” jawabnya.
Mereka asik aja ngoceh, aku pun pergi meninggalkan mereka.
“Gue pergi sebentar ya,” izinku, lalu bangun dari kursi dan pergi meninggalkan kelas.
Tak lama aku pergi, Bisma pun juga ikut-ikutan pengen pergi.
“Fik, gue ke toilet sebentar ya. Udah kebelet nih,” ujarnya bohong.
“Jorok deh lo, yaudah sana,” usir Fika. Bisma berlari keluar kelas.

***

Aku sedang berjalan di koridor sekolah sambil mendengarkan lagu memakai headsetku dan memakan permen foxs kesukaanku. Tiba-tiba aja ada orang yang seenaknya nyentuh pundakku, aku langsung melempar tangan itu.
“Apa apaan nih?” ujarku kasar sambil melepas headsetku.
“Sorry, sorry.. gue cuma mau tanya aja kok. Ruang kepala sekolah dimana ya?” tanyanya.
Aku menatapnya dari atas sampai bawah, lalu balik lagi keatas. Dia juga jadi kebingungan dengan tatapan anehku.
Kayaknya nih orang baru gue liat di sekolah ini, apa mungkin dia murid baru? Jangan-jangan murid baru dikelas gue lagi? Wah bisa gue kerjain dong, haha.. itung-itung bikin sesuatu yang berkesan di sekolah barunya sekarang. Siapa suruh pindah sekolah ke Jakarta? Udah tau lebih baik sekolah di luar negeri yang jelas-jelas pendidikannya bagus banget. Hahaha.. saatnya beraksi,  batinku jahat.
Cowok berbehel ini menggerakkan tangannya di depan mukaku, membuat ku tersadar. Secara refleks aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan mengedipkan mata.
“Elo nggak apa-apa kan? Ruang kepala sekolah dimana ya? Gue dari tadi muter-muter nggak ketemu,” ujarnya sambil garuk-garuk kepala. “Setiap orang yang gue tanyain juga pada ngebohongin gue, semoga aja elo nggak ngerjain gue juga ya..” ucapnya pasrah.
“Nggak, gue nggak apa-apa kok. Oh elo murid baru? Pindahan dari mana?” tanyaku sok perhatian.
“Iya gue anak baru disini. Pindahan dari Perth,” jawabnya agak bersemangat.
“Waahhh.... Perth? Australia? Keren yah..” kataku sok simpatik.
“Ah biasa aja kok. Nama lo siapa?” tanyanya sembari menawarkan jabatan tangan.
Aku menjabat tangannya lalu tersenyum. “Kenalin gue Nuraeni, panggil aja Eni. Oke?” jawabku.
Dia kaget pas tau namaku. Tapi aku cuma diem aja, nggak nanggepin sikap dia yang berubah jadi kaget mendadak begitu. “Elo? Nuraeni?”
Aku melepas jabatan tangannya. “Iya, kenapa emangnya? Nggak boleh? Emangnya elo siapa? Nenek moyang gue?” tanyaku galak.
Dia jadi gelagapan gara-gara kegalakanku barusan. “Ng...nggak kok, nggak apa-apa. Kenalin gue Dicky,” ucapnya.
“Oh.. eh iya, elo mau tau ruang Kepsek kan? Elo lurus aja, terus belok kanan sampe mentok, abis itu belok kiri, disana cuma ada satu ruangan aja. Tempatnya emang agak tersembunyi sih, biar nggak pada sembarangan gitu deh.. gue pun nggak ngerti sembarangan apa yang dimaksud itu. Elo langsung masuk aja ya! Yaudah gue duluan, bye,” kataku menjelaskan.
Tanpa ada keraguan, dia langsung berjalan ke tempat yang udah aku tunjuk. Padahal aku agak nggak enak hati juga sih udah bohongin cowok itu. Tapi kan nggak apa-apa sekali-sekali ngerjain anak baru. Sebenarnya kan itu gudang, bukan ruang kepala sekolah. Hahaha...
Aku juga tanpa ragu, berjalan menuju parkiran. Sesampainya disana, aku berjalan dengan hati-hati seperti mengendap-endap. Tak lupa aku mengawasi keadaan disekeliling ku yang ternyata sepi banget. Ini kesempatan bagus buat ide ku sekarang. Aku mencari-cari motor ninja hijau yang udah nyipratin genangan air dijalan ke sepatuku. Tanpa mencari terlalu lama, aku udah ketemu motor itu. Jelaslah aku cepet temuin motor itu, di sekolah Perwira ini cuma pemilik motor itu yang punya motor ninja hijau. Biasanya kalo ada yang punya ninja, motornya juga berwarna merah. Jadi, gampang banget ketebak.
Aku berjalan mendekati motor itu, lalu jongkok di hadapan ban belakangnya. Aku mengambil jarum yang ada disaku seragamku.
“Hahaha.... mampus loh,” kataku licik.                                  
Aku mendekatkan jarum itu ke ban motornya. Dan caraku berhasil, ban itu bocor. Setelah ideku berjalan dengan lancar, aku bangun sambil menepuk tanganku.
“Berhasil juga. Rasain lo! Siapa suruh cari masalah sama gue?! Sayangnya elo nggak tau gue ya? Haha iya deh, emang elo nggak tau gue. Selamat berepot-repot ya,” ujarku kepada diri sendiri, lalu pergi balik ke kelas.
Lagi asik santai jalan sendiri di koridor sekolah, tiba-tiba aja ada yang menepuk punggung aku dari belakang. Udah kaget banget, aku pengen jatoh pula. Aku pun mengelus-elus dadaku sambil menoleh ke belakang. Ternyata itu Bisma. Ah dikirain siapa. Kalo Dicky, mampus aja deh. Tamat riwayatku.
“Ah gue kira siapa! Ngapain sih ngaget-ngagetin?” dumelku.
“Hehe.. sorry, Ni. Nggak usah ngomel dong! Entar cantiknya ilang loh,” godanya sambil mencolek pipiku. Dengan cepat aku menjauhi wajahku.
“Apaan sih lo nyolek-nyolek segala,” ujarku jutek.
“Kasar banget sih lo. Tenang aja, gue nggak bakalan apa-apain elo kok. Emangnya gue pencuri perawan galak,” ledeknya sambil mengedipkan mata.
Dengan gerakan cepat aku mencubit lengannya. “Sialan lo. Segitu galaknya ya gue? Hahaha,” tawaku.
Bisma langsung mengelus-elus lengannya yang kesakitan gara-gara cubitanku barusan. “Nggak usah nyubit dong. Sakit tau,” dumelnya kesal, tapi tiba-tiba dia tersenyum. “Gitu dong ketawa, jangan galak-galak. Jelek loh nanti,” katanya masih aja gombal.
“Dasar gila. Hahaha,” ledekku.
“Eh iya, elo laper nggak? Ke kantin yuk! Gue traktir deh, anggep aja traktiran sebagai temen baru,” ajak Bisma.
Aku berfikir sebentar. “Hhhmmm... Oke deh. Tapi jangan marah ya kalo gue banyak makannya. Hahaha,” jawabku iseng.
“Oh, elo makannya banyak? Tenang aja sama gue mah. Gue jabanin, apa sih yang nggak buat Eni,” ledeknya lagi sambil mencolek daguku, lalu merangkulku dan berjalan menuju kantin. “Yaudah ayo yuk!”
Baru beberapa langkah aku berjalan, tiba-tiba aja ada tangan yang melepas rangkulan Bisma dari pundakku. Aku dan Bisma menoleh ke orang itu.
“Lo kenapa sih, Ham?” tanyaku kesal.
Ilham menatap Bisma penuh kebencian. “Lo ngapain ngerangkul cewek gue? Pake colek-colek lagi. Anak baru aja belagu lo, gimana udah lama disini?,” bentaknya.
Aku tersentak kaget saat mendengar perkataan Ilham barusan.
“Eni? Dia cewek lo?” tanya Bisma.
“Eeeiiitttssss, tunggu tunggu..” kataku menengahi, lalu menatap Ilham perihatin. Aku melipatkan tangan, “Ilham, jujur ya! Setau gue, elo itu bukan cowok gue deh. Gue masih inget banget loh, gue belom amnesia. Dan yang gue tau, elo yang ngejar-ngejar gue. Kenapa harus bikin gosip yang nggak-nggak ya? Segitu besarnya ya elo mengidam-idamkan gue?” ejekku tapi agak sedikit halus.
Ilham langsung kaku terdiam. Bisma pun mengangguk-angguk mengerti.
“Oke oke, gue ngerti maksudnya. Ohya Ni, dia siapa namanya?” tanya Bisma ingin membalas ocehan Ilham yang nggak bener barusan.
“Ilham,” jawabku singkat.
“Oh iya, Ilham Ilham.. baru inget tuh gue,” ledek Bisma. “Ham, lo kalo ngomong dijaga ya! Gue udah temenan kok sama dia. Dia juga nggak keberatan jadi temen gue. Dan gue cuma bercanda aja sama Eni. Terus kenapa elo harus marah? Toh, dia bukan siapa-siapa elo kan? Gue berhak dong jadi seseorang yang lebih dari sekedar temannya dia? Udah deh ya, gue males ngeladenin orang yang tukang ngayal kayak elo,” jelas Bisma. “Ni, kita pergi aja yuk,” ajak Bisma sambil menarik tanganku.

***

Sambil menikmati makanan hasil dari traktirannya Bisma, kita bercanda berdua. Terkadang mesra-mesraan, gombal-gombalan, pukul-pukulan, cubit-cubitan, aahhh pokoknya seru dan aneh deh. Bahkan banyak murid yang ngeliatin kita dengan tatapan yang nggak biasa. Tapi aku dan Bisma cuek aja. Aku baru aja bertemu Bisma dan mengenalnya, tapi terasa seperti udah kenal dia lama banget. Kita juga sama-sama nyambung kalo ngobrol.
“Bapak kamu tukang getek ya?” tanyanya ingin gombal.
Aku sok berfikir. “Hhmm... nggak deh kayaknya,” jawabku menggeleng-gelengkan kepala.
“Udah bilang iya aja. Bilang iya susah amat dari tadi,” kesalnya.
Aku menyikut lengannya. “Begitu doang ngambek. Iya deh iya, bapak aku tukang getek. Emangnya kenapa?”
“Karena bapakmu telah membantuku menyebrang menuju hatimu,”
Dari kejauhan udah terlihat Fika sedang berjalan menuju mejaku. Dia terlihat cemberut.
“Eh ada Fika tuh mau kesini,” ujarku sambil memberi aba-aba pada Bisma dengan gerakan kepalaku.
“Mampus,” katanya.
Bisma menutup wajahnya dengan tangan dan ngumpet dibalik badanku. Sikap itu yang membuatku bingung. Aku menoleh ke belakang.
“Bis, elo kenapa? Kayak abis ngeliat nenek lampir aja. Hahaha,” ledekku.
“Fika mau kesini? Ah mampus deh gue! Nanti gue ceritain. Gue pengen kabur dulu,” katanya sambil berdiri dan masih dengan tangan yang menutupi wajahnya.
Aku memegang tangannya, Bisma pun menoleh sedikit.
“Elo mau kabur juga nggak bakalan bisa. Dia udah tau keberadaan lo. Mendingan elo disini aja! Nggak enak tau,” ucapku.
Bisma pun kembali duduk disampingku. Tapi sekarang dia udah membuka tangannya dari wajahnya. Fika datang dan duduk didepan Bisma.
“Eh Bis, gue tunggu-tungguin di kelas, eh elonya disini berduaan sama Eni. Kenapa nggak bilang sih? Kalo bilang kan dari tadi gue kesini,” dumelnya pada Bisma.
“Sorry sorry, sebagai tanda maafnya gue anter elo berdua pulang deh,” jawabnya semangat. Aku dan Fika menatap Bisma antara senang dan tak yakin.
“Elo beneran Bis?” tanya Fika tak yakin.
“Emangnya elo mau anter kita pake apa? Bajaj? Mendingan nggak usah,” ledekkku masih dengan tatapan yang sok senang dan senyuman.
Bisma menghela nafas sambil menatapku lesu. Itu satu-satunya cara biar dia bisa sabar menghadapi orang sepertiku ini. “Suka-suka elo deh ya mau bilang apa,” tutur Bisma, lalu berbalik menatap Fika yang masih dengan tatapan percaya dan nggak percaya, sama denganku. “Fika, kita kan baru kenal. Masa gue udah boongin elo sih? Terus gue boongin cewek lagi, mana mungkin? Udah gitu gue ngapain boong? Kan gue mau minta maaf,” katanya dengan kata-kata yang ribet banget buat dicerna.
“Ah Bisma bener-bener deh! Baik banget,” ocehku sambil mencubit pipinya sekeras kerasnya.
Tampang Bisma udah kesakitan banget, dia langsung mengelus-elus pipinya sambil sedikit merintih. Fika agak sedikit panik, lalu memegang pipi Bisma.
“Eni parah banget! Masa dicubitnya kayak gitu sih? Dia kan jadi kesakitan,” katanya kesal padaku.
Alisku mengkerut. Sejak kapan Fika jadi sok baik kayak gini? Sok perhatian kayak gini? Sebenernya ada apaan sih? Lagian kan kita baru aja kenal sama Bisma. Iya sih, aku juga sama seperti Fika. Baru beberapa jam kenal Bisma, tapi udah deket banget. Tapi ada perbedaannya, kalo aku cuma sekedar bercanda. Sedangkan Fika? Wah ada yang nggak beres nih. Batinku aneh.
“Nggak apa-apa kali, Fik. Gue sama Eni dari tadi juga kayak gitu kali,” kata Bisma membelaku, lalu menyenggolku. “Iya nggak, Ni?”
Dengan gelagapan aku menganggukkan pertanyaan Bisma barusan. “Eehh....i...i...iyaa Fik. Ada apaan nih? Kok belain Bisma? Jangan-jangan....” ledekku, sehingga membuat Fika salah tingkah. Sepertinya dugaanku benar saat ini.
“Heh, ternyata elo ada disini ya. Gue cari elo keliling sekolah, tapi elo malah disini. Bangun lo,” bentak seseorang dibelakangku.
Aku juga nggak tau siapa yang dia bentak. Fika, Bisma, atau aku? Entahlah, tapi sekarang aku tau siapa yang dibentak. Fika menunjuk-nunjuk orang yang ada dibelakangku sambil berbisik padaku. Aku tak tau apa yang dibisiknya, tapi yang aku yakini sekarang, aku yang kena bentak orang itu. Mau tak mau aku menoleh ke belakang. Mulutku ternganga sedikit, aku jadi gelagapan dan kaget.
“Elo?” cuma itu yang bisa keluar dari mulutku.
Cowok berbehel itu menatapku tajam dan kesal sambil menopangkan tangannya di pinggang. “Elo sama aja ya kayak yang laen. Bisanya ngerjain orang aja. Iya gue tau, gue murid baru disini. Tapi elo bisa kan jaga kelakuan elo? Kalaupun gue murid baru, elo seharusnya ngehargain gue yang masih baru disini. Belom nyaman dengan suasana disini,” terangnya kasar. Aku hanya bisa menunduk dan memainkan kedua jari jempolku. Itulah kebiasaanku kalo sedang dalam keadaan yang buruk.
Aku memberanikan diri menatapnya tegas. Gengsi dong kalo kita yang ngerjain dia, terus kita yang dibentak sama dia. “Nyadar dong, gue tuh cuma bercanda. Kenapa elo besar-besarin sih? Emangnya sesusah itu ya elo nyari ruang Kepsek? Katanya udah keliling sekolah berkali-kali. Masa belom dapet juga? Itu mah elonya aja yang kegenitan sama cewek,” balasku kasar dan galak juga.
Sekarang semua murid yang ada di kantin, menatap keributan yang terjadi antara aku dan Dicky. Bahkan ada yang berbisik, menyebarkan gosip yang nggak-nggak. Dan tambah kesel lagi, Bisma dan Fika ikut-ikutan ngeliatin aja, nggak usaha buat ngeleraiin kita berdua. Aku paling nggak bisa berantem sama cowok. Tapi aku juga nggak mau kalah sama Dicky yang sok tiba-tiba hina aku.
Dicky menatapku tak percaya. “Elo seharusnya juga nyadar. Siapa juga yang mau godain cewek galak kayak lo? Elo tenang aja ya, gue udah ketemu kok sama Kepsek. Jadi, elo nggak perlu lagi ngerjain gue,” bentaknya.
“Apa elo bilang? Cewek galak? Lah elo behel karatan,” balasku lagi. Saking malasnya ngeladenin orang kayak gitu, aku pergi ke kelas. Fika dan Bisma mengikutiku di belakang.
“Awas lo, lain kali gue balesss!!!!!!!!!” teriaknya, tapi aku tak menghiraukannya.

***

Bel pulang pun berbunyi, aku, Fika dan Bisma berjalan menuju parkiran mobil. Selama diperjalanan, kita bercanda bareng. Sesampainya di parkiran, aku melihat sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku. Aku teringat akan balas dendamku tadi pagi. Aku berpamitan kepada Fika dan Bisma, kalau aku permisi ke toilet sebentar. Dengan mengendap-endap, aku berdiri di suatu tempat yang nggak terlihat dari parkiran, tapi dari sini aku bisa melihat parkiran dan tepat pada motor ninja hijau itu.
Banyak murid berjalan menuju motor mereka masing-masing. Dan rata-rata kaum laki-laki. Tiba-tiba aja dateng cowok yang bikin rusak mataku yang indah ini. Sepertinya tujuan dia kesana sama dengan yang lain, ngambil motor dan langsung cusss pergi nggak tau kemana.
“Apaa?????” bisikku kaget, lalu menutup mulutku dengan telapak tangan.
Aku benar-benar kaget dan tak percaya. Ternyata pemilik motor itu Dicky. Si behel karatan yang udah bikin aku malu di kantin tadi siang. Aku masih nggak nyangka kalo dia pemilik motor itu. Aku pasti nggak akan berenti berantem sama dia dan akan selalu musuhan kayak kucing dan anjing, nggak ada rukun-rukunnya. Dengan gerakan cepat, aku langsung lari pergi menyusul Fika dan Bisma yang udah pasti nungguin aku.
Tanpa nyasar nyari mobil Bisma, aku langsung masuk kedalam mobil. Nafasku jadi nggak beraturan gara-gara lari barusan. Aku pun berusaha menenangkan diri sebentar. Fika dan Bisma sepertinya bingung juga.
“Ni, elo ngapain lari-lari kayak dikejar anjing? Katanya dari toilet,” ujar Fika aneh.
“Tau nih. Yaudah kita langsung jalan aja ya,” lanjut Bisma yang langsung menancapkan gasnya keluar sekolah.
Selama diperjalanan, aku menceritakan tentang kejadian tadi pagi di parkiran sampai yang barusan aku mata-matai. Fika langsung melotot padaku.
“Eni, elo parah banget ya. Kalo dia sampe tau gimana? Wah elo bisa kena imbasnya,” kata Fika memberi peringatan padaku.
Aku hanya bisa menundukan kepala. “Iya-iya. Gue tau ko. Tapi kan gue nggak tau kalo itu motor dia,”
“Yaudahlah, nggak usah disesalin. Toh, udah kejadian ini. Tapi jangan sampe dia tau aja. Nanti dia bisa lebih kasar lagi sama elo,” tambah Bisma yang sedikit membelaku. Aku hanya bisa menghela nafas.
“Tapi kan cowok kayak dia harus dikasih pelajaran biar nggak songong lagi. Belom kenal aja udah nyari ribut, apalagi kalo udah kenal? Ih amit-amit gue kenal sama dia. Biarin aja deh kalo itu motor dia atau bukan. Yang penting dia udah ngajak ribut duluan sama gue,” dumelku dengan agak kasar.
Cccccccccccciiiiiiiiiiiiitttttttttttttt!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Itulah suara mobil Bisma saat mengerem sangat pakam. Dia nyaris aja nabrak mobil di depannya. Aku, Fika, dan Bisma kaget sampai tak bisa berbicara apa-apa lagi. Bahkan aku lupa apa yang sedang dibicarakan barusan. Aku masih tak menyangka dengan kejadian barusan. Untungnya Bisma hanya nyaris nabrak, nggak bener-bener nabrak. Tapi tetep aja bikin jantungku dan Fika hampir mau copot.
“Bisma, elo kalo bawa mobil yang bener kenapa! Kalo dia tau gimana? Terus dateng nyamperin kita? Dan kalo mobil dia ada yang lecet gimana?” oceh Fika ketakutan.
Dan benar perkataan Fika barusan, pemilik mobil itu keluar dari dalam mobil, lalu berjalan kebelakang melihat keadaan mobil hitamnya. Aku, Fika, dan Bisma makin ketakutan sampai gemetaran saat pemilik mobil itu mendekat mobil yang kita tumpangi. Lelaki itu langsung mengetuk kaca mobil Bisma. Dengan gemetar, Bisma membukakan kaca mobilnya.
“Sorry-sorry gue nggak sengaja,” kata Bisma meminta maaf duluan.
Lelaki itu menatap Bisma jengkel. “Masih untung nggak ada yang lecet dimobil gue. Kalo ada, gue bisa lakuin apa aja sama lo,” teriaknya kesal.
Bisma menghela nafas lega, diikuti aku dan Fika.
“Eits, nggak segampang itu elo bebas dari gue,” katanya memberi peringatan.
“Loh? Kok gitu sih? Mobil elo kan juga nggak kenapa-kenapa,” jawab Fika membela Bisma.
“Elo nggak usah perpanjang masalah dong,” sewot Bisma.
Cowok itu menarik nafas panjang sambil menatap langit, lalu kembali menatap Bisma. “Gue tau elo itu anak SMA Perwira. Sedangkan gue, gue anak SMA Bakti, dan gue anak basket,” ujar cowok itu dengan tatapan yang sinis saat mengucapkan kata-kata terakhir.
Aku dan Fika saling bertatapan kaget. Dia anak SMA Bakti? Dan anak basket? Mampus aja deh kita. SMA Bakti itu adalah musuh bebuyutannya SMA Perwira. Saat ini kita dalam masalah besar. Aku kan juga belum tau Bisma bisa basket atau nggak! Kalo nggak bisa gimana? mampus deh kita.
“Terus kenapa? gue peduli?” jawab Bisma menantang.
Aku pun langsung gigit jari. “Bisma, dia itu sekolah di sekolah yang dari dulu udah jadi musuh sekolah kita,” bisikku pada Bisma. Mata Bisma langsung membulat.
“Gue mau ngajak elo tanding basket antar sekolah, tapi dengan taruhan. Kalo elo mau tau taruhannya apa, elo dateng lagi kesini jam tujuh malem. Itu pun kalo elo nggak cemen,” tuturnya santai.
“Oke, gue terima ajakan elo,” jawab Bisma tegas.
“Gue tunggu,” katanya lagi, lalu pergi ke mobilnya.
“Elo beneran mau tanding basket sama dia?” tanya Fika khawatir.
Bisma pun memegang lengan Fika yang ada disampingnya untuk meyakinkannya. “Tenang aja Fik. Basket mah gampang. Shuffle pun gue jabanin, hahaha,” jawabnya enteng.
“Emangnya elo bisa shuffle?” tanyaku.
“Yah, gue mah udah berkali-kali dapet penghargaan,” jawabnya lagi dengan bangga.
“Ajarin gue dong,” lanjut Fika.
“Kapanpun gue bersedia, haha,” ujar Bisma sambil tertawa.

***

Keesokan harinya, seperti biasa, aku diantar sama ka Rangga. Keadaan didalam begitu hening, hanya terdengar suara kendaraan yang lalu-lalang kesana kemari. Ka Rangga agak bingung dengan sikapku pagi ini, nggak biasanya aku udah bengong pagi-pagi begini. Ka Rangga langsung menegurku.
“Eh Ni, ngapain bengong? Udah pagi gini malah bengong, nanti kesambet loh,” tutur ka Rangga ingin meledek.
Tapi ledekkannya tak ku balas, malahan aku masih dengan tatapan yang datar. “Ka, gue kangen sama Ichy,” ucapku jujur.
Ka Rangga mengangguk-angguk mengerti apa yang terjadi padaku sekarang. Kebingungannya tadi udah terjawab. “Elo pasti bisa ketemu sama dia lagi. Gue juga udah dapet kabar dari mama, kalo Ichy dan keluarganya udah ada di Jakarta,” lanjut ka Rangga ingin menenangkanku, tapi ini bukan menenangkan. Ini penyiksaan bagiku. Seolah-olah ka Rangga ingin aku selalu menanti Ichy yang tak kunjung datang padaku. Aku harus tetap menunggunya, menantinya, dan terus berharap yang udah membuatku capek. Tapi aku juga nggak bisa ngilangin rasa ini, aku udah berkali-kali berusaha membuang perasaan ini. Hasilnya pun selalu sama, aku nggak bisa ngelakuin itu semua. Dengan begitu aja air mataku langsung membasahi pipiku. Ka Rangga agak sedikit panik. “Ni, elo kenapa? ko nangis? Elo kan seharusnya seneng dia ada di Jakarta,” tambahnya. Dan aku menangis lebih keras lagi dari sebelumnya.
“Kaka jangan bilang itu lagi dong,” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku sekarang.
Ka Rangga menghentikan mobilnya. “Iya-iya, gue nggak bilang itu lagi. Tapi elo juga jangan nangis lagi dong. Kita udah di depan gerbang nih,” jawabnya sedikit membujukku.
Aku menghapus air mataku dengan kedua tangan. Tiba-tiba ka Rangga menawarkan tisu basah padaku. Secepat kilat aku mengambilnya. “Makasih ka,” ucapku.
Ka Rangga mengangguk. “Iya. Yaudah sana masuk,” ujarnya agak sedikit mengusir. Aku menoleh padanya dengan agak sinis. Ka Rangga pun langsung cengar cengir. “Matanya biasa aja dong, Ni. Hehe,”
Aku pun keluar dari dalam mobil dan berjalan memasuki gerbang. Tiba-tiba sebuah motor berhenti disampingku dan pemiliknya membuka helmnya.
“Ternyata cewek galak bisa nangis juga ya? Baru tau gue. Biasanya yang gue tau cewek galak itu tukang ngomel kayak mak lampir,” ujar Dicky meledekku.
Mana mungkin aku tinggal diam aja, bikin panas kata-katanya barusan. Aku menatapnya tajam dan penuh kekesalan. “Elo maunya apa sih? Belom puas kemaren udah malu-maluin gue di kantin? Apa elo emang nggak tau malu?” balasku kasar.
“Heh nenek lampir, suka-suka gue dong mau kayak gimana. emangnya penting buat elo?” katanya kesal.
“Iiissshhhh........” aku udah males ngeladenin orang kayak dia, langsung aja aku pergi ke dalam sekolah ninggalin orang yang nggak tau malu kayak gitu.

***

Bel pulang pun berbunyi, aku, Fika dan Bisma langsung pergi  ke lapangan basket. Bisma udah konfirmasi dengan kelompok basket di sekolah kita, dan mereka menyetujui pertandingan ini. Hanya ada satu alasan mereka menyetujuinya, yaitu mereka nggak mau kalah sama musuh. Setiap ada pertandingan dengan sekolah Bakti, sekolah kita nggak pernah nolak. Emangnya SMA dia aja yang bisa, sekolah kita juga bisa, hihi..
Aku dan Fika menemani Bisma selama latihan basket. Fika begitu semangat menunggu Bisma dan melihatnya latihan. Sedangkan aku, aku malah males banget di ruangan ini. Bukan karena nggak mau bantu dan beri dukungan sama Bisma, tapi ada seseorang disana yang bikin aku gondok banget siang ini. Kenapa dia harus ikut klub basket juga sih? Bikin rusak mata aja, batinku kesal.
Tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan yang ingin aku tanyakan. “Fika,”
Fika menolehkan kepala padaku. “Kenapa, Ni?” tanyanya.
“Gue mau nanya sesuatu sama lo,” ujarku agak sedikit kikuk.
“Mau tanya apaan emangnya? Ribet banget kayaknya. Kalo mau nanya ya nanya aja,” jawabnya santai.
“Iya deh iya. Elo suka ya sama Bisma?” terangku, Fika langsung kaget mendengar pertanyaanku barusan. Dia terdiam. Aku pun jadi nggak enak sama Fika. “Fik, sorry. Gue nggak ada maksud apa-apa kok. Kalo lo nggak mau jawab juga nggak apa-apa,” tambahku lagi.
Lalu Fika memegang kedua tanganku dan menatapku dalam-dalam. “Iya gue suka sama Bisma. Tapi gue minta sama lo, elo jangan bilang siapa-siapa ya,” jawabnya jujur dan meminta padaku.
Aku mengangguk mengerti dan mengiyakan permintaannya. “Iya, gue nggak bilang siapa-siapa. Tapi elo juga harus ambil hati dia ya. Sebelum ada yang ngambil dia dari lo,” tuturku mengingatkan sahabatku ini dengan tersenyum indah.
Setengah jam kemudian, Bisma dan kawan klubnya selesai latihan hari ini. Baju seragam olahraga Bisma udah bercucuran keringat udah kayak orang mandi. Fika dengan sigap mengambil handuk kecil dan sebotol air minum, lalu berlari kearahnya. Aku sih diem aja. Dengan tampang bete, aku menopangkan wajahku dengan tangan. Lalu aku memalingkan wajah dari semua anggota klub basket yang sedang berjalan mengarah padaku. Mereka bukan ingin mendekatiku, tapi mereka ingin istirahat dan mengambil tasnya masing-masing yang berserakan disekitarku.
Ada seorang cowok duduk disampingku, tapi aku tak mempedulikannya. Dia meneguk air begitu banyak. “Ngapain lo disini?” tanyanya sinis padaku.
Aku pun menoleh padanya, lalu menghela nafas pasrah. “Penting ya buat lo?” tanyaku sinis juga padanya.
“Gara-gara elo tau nggak, gue jadi harus ikut pertandingan. Padahal gue baru hari ini ikut latihan. Emang bisanya nyusahin orang aja ya lo,” tambahnya lagi yang bikin panas kupingku ini.
Aku melotot tajam padanya, tapi dia malah membalasnya lebih tajam dariku. Aku lalu berdiri, diapun juga ikut berdiri. “Itu bukan salah gue. Dan disini nggak ada yang salah, tapi elonya tuh yang salah. Ngapain lo masuk klub basket? Berasa udah jago lo? Atau mau genit sama cewek satu sekolah ini?” kataku sambil teriak kesal. Teriakanku ini membuat semua mata menatap perkelahian aku dan Dicky, sih behel karatan nggak tau malu ini.
“Heh panci bolong, gue disini mau nerusin hobi gue. Dan emangnya elo ada hak buat ngatur-ngatur gue masuk exskul apa? Ortu gue aja nggak ada hak, apalagi elo yang bukan siapa-siapa gue. Terus elo juga ngapain disini? Mau genit sama cowok disini? Lo pikir lo cantik? Cewek galak kayak elo mana ada yang mau,” balas Dicky kesal.
“Heh besi karatan, gue disini mau bantuin dan kasih support ya buat temen gue. Elo jangan kege-eran deh. Gue juga nggak anggep gue cantik ko. Elonya aja tuh yang berlebihan,” dumelku kasar.
Tiba-tiba Reza datang berusaha meleraikan kami berdua. “Dick, Ni, ngapain kalian berantem? Nggak baik tau nggak. Bis, bawa Eni pergi nih. Gue bawa Dicky,” ujar Reza. Bisma pun membawaku pergi keluar ruangan, dibelakang ada Fika yang mengikuti kami. Sedangkan Reza, membawa Dicky ke ruang ganti.

***



Perkelahian aku dan Dicky membuat aku dicuekin abis-abisan sama Bisma dan Fika. Nggak seru banget. Semua hening nggak ada satu pun yang memulai pembicaraan. Emang sih ini aku yang salah, dan aku juga ngerasa bersalah. Tapi kan yang awal ngajak ribut juga bukan aku. Kenapa aku yang harus di cuekin? Nggak adil banget buat aku. Makin benci aja deh sama behel karatan yang nggak tau malu kayak gitu.
Aku udah males banget sama suasana di mobil yang nggak seru kayak gini, lebih baik aku aja yang memulai pembicaraan. “Lo berdua marah sama gue?” tanyaku rada kesal.
“Sedikit,” jawab Fika singkat. “Elo bisa kan nggak berantem terus sama Dicky? Lagian apa sih yang kalian ributin? Nggak ada kan? Emang aneh deh elo berdua,” tambah Fika.
“Gue disini nggak berpihak sama siapapun. Soalnya elo berdua salah. Dicky nge-judge elo duluan, seharusnya elo diemin aja. Tapi elo malah bales dia, yah makin menjadi aja deh,” lanjut Bisma.
Kita ternyata udah sampe dirumah Fika. Bisma pun mematikan mesin mobilnya. Sebelum turun, Fika menatapku sebentar.
“Ni, elo jangan berantem terus ya sama Dicky. Kalo perlu lo baikan sama dia,” pintanya, lalu menatap Bisma tersenyum. “Thanks ya, Bis,” katanya lalu membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobil.
Aku hanya diam. Rada gondok juga harus baikan sama behel karatan kayak Dicky. Udah tau yang salah dia, kenapa harus aku yang minta baikan? Biarin deh aku ikutin aja maunya dia apa, sampe bosen.
Setelah Fika keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah, Bisma menghidupkan mesin lalu mengegaskan mobilnya menuju rumahku.
“Bisma,” panggilku agak takut.
“Iya apa?” tanyanya singkat.
“Elo taruhan apa sama cowok itu?” tanyaku langsung.
Bisma jadi kikuk nggak jelas. “Gue...gu..guee...” Bisma terus berpikir keras untuk menjawab pertanyaanku barusan.
Aku terheran. “Taruhan apaan emangnya, Bis?” sahutku ingin tau.
“Ada deh pokoknya. Gue harus latihan terus nih, soalnya dia bilang dua minggu kedepan kita mulai tanding,” elak Bisma.
“Emangnya dia siapa sih? Kok bisa sok banget kayak gitu? Mentang-mentang di anak SMA Bakti,” ucapku kesal.
“Dia namanya Morgan. Gue juga nggak tau, gue kan baru disini,” jawab Bisma. Aku pun mengangguk mengerti.

***

Esok sorenya, aku menyempatkan waktu pergi ke taman. Aku masih teringat dan terbayang-bayang dengan mimpiku waktu itu. Aku berharap banget mimpi itu benar-benar datang dari Ichy yang juga kangen sama aku, sampe-sampe dateng ke mimpiku waktu itu. Disana banyak orang berdatangan, dari yang bayi, balita, anak-anak, remaja, ibu-ibu, bapak-bapak, sampe yang tua pun ada disana.
Aku berjalan sambil melihat-lihat taman itu. Udah lama aku nggak kesana dan menghirup udara segar disana. Sejak kepergian Ichy, aku udah nggak pernah kesana lagi. Aku berfikir, Ichy udah membuangku seperti sampah. Aku dibiarkan menunggunya sampai tak berdaya seperti ini. Karena itu aku menjauhi tempat ini. Tapi sejak mimpi itu, aku memberanikan diri untuk datang kesini. Aku punya harapan banyak disini, aku berharap Ichy ada disini.
Saat aku sedang berjalan dengan pandangan lurus kedepan, dari samping kiriku tiba-tiba ada sepeda ingin menabrakku. Secara spontan aku berteriak dan menutup wajahku.
“Elo kalo jalan hati-hati dong. Nggak tau ada sepeda apa?” bentaknya padaku.
Aku pun membuka mataku dan tangan dari wajahku. Aku kaget melihat siapa yang mengendarai sepeda itu. Dia juga ikut kaget saat melihatku. “Elo ngapain disini? Yang ada tuh elo yang hati-hati. Nggak liat di depan elo ada orang jalan?” sahutku geram.
“Heh tikus got, lagian elo ngapain sih kesini? Ganggu suasana hati gue tau nggak!” omel Dicky.
“Heh tikus kelindes truk, emangnya elo puny hak ngatur-ngatur gue? Kalo gue tau disini ada elo, gue juga nggak bakalan kesini,” balasku.
“Sekarang elo udah tau kan kalo ada gue disini? Kenapa elo nggak pergi aja sekarang?” katanya ingin mengusirku.
Tiba-tiba ada seseorang memegang tanganku. “Jangan beraninya sama cewek dong lo,” bentaknya ke Dicky. “Elo ikut gue sekarang,” kata Morgan padaku.
Aku dan Morgan pergi menghindari Dicky, sih behel karatan itu. Aku nggak tau akan dibawa kemana sama dia. Tapi aku ikutin aja kemana dia mau. Kalo mau pergi juga susah, tanganku ditarik terus sama dia. Pasrah ajalah. Dia menghentikan langkahnya di kalangan anak-anak yang lagi asik main layangan. Aku jadi terheran-heran, apa maksud dia mengajakku kesini?
“Elo belom kenal gue tapi udah seenaknya bawa gue kesini. Mau lo apa sih?” tanyaku sinis.
Tanpa ku perkirakan, dia langsung tersenyum. Senyumannya indah banget buat dipandang. “Gue cuma mau berteman aja ko sama lo. Nggak boleh ya?” sahutnya, lalu pandangannya berganti ke layangan yang sedang menari-nari di langit. “Iya sih gue tau, gue udah buat hal yang aneh sama temen elo itu. Gue cuma mau dapet apa yang gue mau ko,” tambahnya lagi.
“Maksud elo apa?” tanyaku. Sekarang aku makin heran dengan maksud pembicaraan dia.
“Nanti aja deh gue jelasinnya,” ucapnya, lalu menawarkan jabatan tangan. “Kenalin gue Morgan,” sapanya.
Aku menerima jabatan tangannya dengan senyuman. “Gue Eni,”
Morgan melepas jabatan tangannya, lalu mengambil layangan yang ada dibawah kakinya. Lagi-lagi aku nggak tau apa maksud dia.
“Daripada elo gondok gara-gara cowok tadi, mendingan kita main layangan,” ajak Morgan.
Aku cuma cengengesan aja mendengar ajakan Morgan barusan. “Gue nggak bisa,”
“Hhh...” Morgan menghela nafas. “Gue juga tau karakter cewek kayak gimana. yaudah gue ajarin. Gue juga udah yakin kok elo nggak bisa main layangan. Bisanya main boneka aja kan?” ledeknya.
Dengan gerakan cepat aku mencubit lengannya dan langsung dapet ringisan kecil dari mulut Morgan. Sambil meringis kesakitan, dia mengelus-elus lengannya.
“Sakit tau,” dumelnya.
“Lagian elo duluan. Yaudah ayo ajarin gue main layangan,” ajakku.
Setelah agak mendingan, Morgan langsung mengajari aku main layangan. Mulai dari melayangkan layangan ke udara, sampai menghindari dari layangan yang lain biar nggak putus layangannya. Disana kami tertawa dan bersenang-senang bareng. Aku nggak tau kenapa aku langsung akrab sama dia. Yang ada dipikiranku sebelumnya, semua anak SMA Bakti itu sombong dan angkuh semua. Ternyata ada juga yang nggak kayak gitu. Morgan baik, ramah, dan perhatian banget. Sambil memainkan layangan, tanganku dan Morgan bersentuhan, Morgan pun ada dibelakangku untuk memandu dan membantuku. Keliatannya udah kayak orang pacaran aja.
“Idiiihhh... nenek lampir bisa juga mesra-mesraan? Emangnya dia doang yang bisa maen layangan? Gue juga bisa,” kata Dicky yang tiba-tiba ada disampingku sambil berusaha menerbangkan layangannya.
Ganggu suasana aja sih ini orang. Gue tampar baru tau rasa. Udah deh males gue ngurusin dia, suka-suka dia mau ngapain, batinku menyabarkan diri. Aku pun tak menggubris perkataan dia.
Tak lama, Dicky udah bisa menerbangkan layangannya. “Liat nih, gue juga bisa kan maen layangan? Yaahh, layangan mah kecil. Begitu aja nggak bisa,” katanya menghinaku.
Aku udah kehabisan kesabaran menghadapi orang kayak dia. Aku pun memberikan layangan itu pada Morgan. Dan dia berpesan untuk nggak membuat keributan disini. Aku mengangguk mengerti untuk mengiyakan perkataannya. Aku berjalan kehadapannya.
“Mau lo apaan sih? Ganggu aja tau nggak sih lo,” ujarku kasar tapi agak sedikit diperhalus.
“Kata orang itu, kalo ada yang pacaran, pasti ditengahnya ada setan. Daripada dihuni sama setan, mendingan sama gue aja. Elo dapet untung juga kan? Nggak diganggu sama setan? Seharusnya elo berterima kasih sama gue,” ujar Dicky yang masih berkonsentrasi bermain layangan.
“Emang dasar lo, strees,” sahutku yang merasa aneh dengan jawaban Dicky yang nggak masuk akal itu. Lalu aku berjalan lagi kearah Morgan. “Kita pergi aja yuk. Kasih aja layangannya ke anak itu,” ajakku sambil menunjuk kearah anak kecil yang cuma bengong ngeliatin layangan.
Morgan pun memberikan layangannya kepada anak itu. Lalu aku dan Morgan pergi meninggalkan Dicky. Disaat lagi asik keliling, aku bertemu dengan Bisma dan Fika yang lagi asik mesra-mesraan. Tapi sepertinya yang mesra Fika, bukan Bisma. Mereka berdua kaget melihat aku disana dengan Morgan. Morgan juga kaget melihat Bisma dan Fika disana.
“Elo?” ucap kami berempat.
Bisma langsung menarik tanganku dan membawaku pergi dari sana. Morgan dan Fika kebingungan melihat kepergian kami berdua. Lalu Morgan menatap Fika senang.
“Elo sama gue aja yuk. Kita cari udara segar aja disini,” ajak Morgan.
“Nggak-nggak. Mendingan gue nunggu temen gue daripada pergi sama lo,” tolak Fika.
“Elo mau sendirian disini? Elo nggak gue apa-apain ko. Tenang aja deh sama gue. Gue cuma mau kenal aja kok sama elo, nggak ada maksud lain,” ujar Morgan berusaha meyakinkan Fika. Fika pun terbuai dengan ucapan Morgan barusan, lalu dia pergi bersama Morgan keliling taman.

***

Setelah jauh dari keberadaan Fika dan Morgan, Bisma menghentikan langkahnya. Aku pun juga begitu. Apa sih maksud dia bawa aku kayak gini? Aneh banget.
“Elo kenapa harus sama dia sih?” tanya Bisma khawatir.
“Loh kenapa? gue tadi nggak sengaja kok ketemu sama dia. Terus dia ngajak gue main layangan aja,” jawabku.
“Oke, gue mau jujur sesuatu sama lo,” ucap Bisma.
Aku bingung. “Jujur tentang apa?”
“Gue sama dia, taruhan cewek,” sahut Bisma yang membuatku kaget tak percaya.
“Gara-gara cewek doang? Emangnya dia siapa?” tanyaku ingin tau.
Bisma menatapku lebih dalam dari sebelumnya, dan tangannya memegang erat tanganku. “Yang gue taruhin itu elo, dia mau ngerusak persahabatan kita,” terang Bisma.
Mataku langsung membulat mendengar itu. Aku sedikit tak percaya perkataan Bisma dan sedikit nggak ngerti. “Gue nggak ngerti sama apa yang elo omongin. Tapi yang jelas, Morgan nggak kayak gitu orangnya. Elo nggak usah nyebar fitnah deh,” kataku tak percaya.
“Mungkin ini nggak masuk akal bagi elo. Soalnya elo nggak tau ceritanya. Tapi gue mohon elo percaya sama gue,”
“Hhh...” aku menghela nafas. “Yaudah, elo cerita dong elo taruhan apa sama dia?” bentakku.
Bisma menunduk. “Gue nggak bisa bilang sekarang. Suatu saat elo juga bakalan tau,”
“Gue nggak percaya sama siapa-siapa disini. Asalkan elo jangan fitnah dia lagi,” pintaku kasar.
“Aduuhhh....” kata Bisma sambil menggaruk-garuk kepala nggak yakin untuk menerima permintaanku. Dia menarik nafas panjang untuk menenangkan diri sebentar. “Oke, asalkan elo jangan terlalu deket sama dia,” sahut Bisma memberi persyaratan. “deal?” tanya Bisma sambil mengulurkan tangan.
“Deal,” jawabku, lalu menjabat tangan Bisma.

***

Esokannya sepulang sekolah, aku sedang berjalan dikoridor sekolah seorang diri. Pengennya sih ada temen, tapi Fika dan Bisma nggak bisa pulang bareng hari ini. Fika, dia harus rapat OSIS. Sedangkan Bisma, dia harus latihan basket. Mau nggak mau deh harus pulang sendiri.
Saat udah sampe depan gerbang, tiba-tiba ada mobil berhenti didepanku. Aku agak sedikit terheran. Sepertinya mobil ini udah nggak asing bagiku. Aku merasa pernah melihatnya, tapi aku lupa kapan dan dimana. Pemilik mobil itu langsung membuka jendela mobilnya. Dan akhirnya aku tau siapa pemiliknya.
“Bareng gue aja yuk,” ajaknya.
“Nggak usah. Gue dijemput kok,” jawabku menolak ajakan Morgan.
“Beneran dijemput? Atau cuma alasan?” tanyanya nggak percaya denganku.
Aku memang berbohong sih. Karena aku teringat perjanjian aku dengan Bisma, aku nggak boleh terlalu dekat dengannya. Tapi aku juga nggak tau kenapa Bisma meminta hal itu padaku. Sekarang aku bingung harus jawab apa. Nggak sengaja ada sesuatu yang terlintas dipikiranku. Aku langsung mengambil handphone dan mengetik nomor ka Rangga, lalu memencet tombol panggil. Aku sengaja melakukan ini, kali aja ka Rangga mau menjemputku. Jadi, aku nggak harus pulang dianter Morgan. Secara nggak langsung, ini penolakan secara halus.
“Hallo? Tumben telfon, ada apaan?” tanya ka Rangga.
“Hallo.. eh, elo katanya mau kasih tumpangan sama gue. Kok gue tunggu dari tadi tapi elonya nggak dateng-dateng sih?” sahutku.
“Loh? Kapan gue bilangnya?” tanya ka Rangga bingung.
“Oke, gue tunggu ya,” kataku, lalu mematikan handphone.
Dari tempat lain, ka Rangga menggelengkan kepala aneh. “Wah, ini orang kesambet. Biarin deh dia pulang sendiri,” ucap ka Rangga.
“Tuhkan, gue udah ada barengannya. Mendingan elo pulang duluan deh!,” ucapku ke Morgan yang masih menunggu jawabanku.
Tiba-tiba motor Dicky datang, langsung aku berdiri didepannya hingga dia berhenti. Lalu dia melepas helmnya. Udah terlihat kalo dia pengen marah denganku, aku berusaha mencegahnya. Aku berlari kearahnya lalu merangkul tangannya. Padahal aku nggak sudi banget megang tangan dia, kalo nggak dalam keadaan darurat aku nggak mau lakuin ini. Dicky kaget melihat tingkahku yang tiba-tiba langsung merangkulnya. Biarkan aja deh, untuk saat ini aku harus pasrah.
Aku tersenyum paksa. “Elo liat kan Gan, kalo gue udah ada barengannya?” tanyaku memastikan dia untuk pergi. “Dick, elo katanya mau anter gue, kok lama banget sih? Gue dari tadi udah nunggu tau,” sahutku.
Dicky makin kaget aja. “Hah?” sahutnya lagi nggak percaya. Aku pun langsung menginjak kakinya, mukanya langsung berubah merah. “I...i...iya dia mau bareng gue. Tadi gue udah ngajakin dia kok,” kata Dicky.
Morgan mengangguk dan menerimanya. “Oke kalo gitu. Gue duluan ya, bye Eni,” ucapnya berpamitan.
Aku dan Dicky terus memantau kepergian Morgan sampe udah jauh. Setelah udah nggak terlihat lagi, aku langsung melepas tanganku lalu kembali jutek seperti biasanya kalo ada Dicky.
“Elo ngapain sih pake halangin jalan gue? Pake suruh boong lagi! Kaki gue juga diinjek, sakit tau! Nggak tau kata sakit apa?!” bentak Dicky, aku usaha menahan diri buat nggak marah juga sama dia. Lama kelamaan males juga cari masalah sama dia. Toh, dia juga tetep nyolotin.
“Sorry, sorry. Tadi terpaksa tau, kalo yang lewat Ilham, gue juga nggak bakalan halangin elo,” jawabku.
“Awas lo, kalo lain kali pake gue lagi buat boong,” ujar Dicky memberi peringatan padaku sambil memakai helmnya lagi.
Aku mengangguk lemah perkataannya. Lalu aku langsung pergi dan berjalan mencari angkutan yang lewat. Aku berjalan sambil menendang botol kaleng yang ada dijalan. Kalo gue nggak keinget perjanjian gue sama Bisma, gue mau deh dianter sama Morgan daripada harus nyari angkot yang dari tadi nggak dateng-dateng. Lagian apa salahnya Morgan sih? Keliatannya dia juga baik kok. Bisma-nya aja kali yah yang lebay?, batinku masih memikirkan masalah tadi.
Tiba-tiba ada sebuah motor berhenti disampingku. Dia membuka kaca helmnya.
“Mau gue anter?” tanyanya ingin memberi tumpangan.
“Nggak perlu. Gue bisa pulang sendiri,” jawabku jutek.
“Gue lagi baik salah, gue lagi nyolot juga salah. Mau elo apaan sih? Apa perlu gue nyolot terus sama elo? Oh mungkin, elo emang keturunan nenek lampir, yang dikit-dikit ngomel. Kalo nggak, jutek. Gue bingung sama Bisma, Fika, kok dia mau yah temenan sama nenek lampir kayak elo?” cerocos Dicky menghinaku.
Mataku langsung meloto tajam padanya. “Eh, gue lagi nggak mau berantem ya sama elo. Emangnya elo belom puas tiap hari berantem sama gue?” balasku.
“Sekarang elo tinggal pilih aja. Mau gue anter atau gue ajak ribut terus?” katanya memberi pilihan.
“Nggak ada pilihan yang laen?” tanyaku lagi.
“Nggaklah. Elo tinggal pilih aja,” ucapnya santai.
Aku rada manyun. “Yaudah deh,” tuturku lalu naik ke motor ninja hijau miliknya.
Dicky tersenyum senang. “Gitu dong. Masih untung ada yang mau anter elo pulang,” tambahnya.
“Elo ngomong kayak gitu lagi, gue turun nih,” kataku kesal.
Dicky cengengesan nggak jelas. “Jangan dong, Ni. Gue kan cuma bercanda, gitu doang ngambek,” ucapnya lalu memberi helm cadangannya padaku. “Nih pake,” tambahnya lagi. Aku pun langsung memakai helm yang dia berikan. Dicky mulai menyalakan motornya. “Pegangan,” suruhnya.
Aku menggeleng nggak mau. “Nggak ah. Males gue megang-megang elo,” jawabku ogah-ogahan.
Dicky pun langsung menancapkan gas dengan kencang. Aku kaget banget, sampe nyaris jatoh ke belakang. Untuk cari aman, aku memeluk erat pinggangnya. Ternyata dia jago juga ngebut. Wah, aku harus hati-hati deh kalo diajak bareng lagi sama dia. Dicky tersenyum bangga karena berhasil bikin aku memeluknya. Sedangkan, aku cuma bisa mencibir kesal.
Licik banget sih nih orang. Kalo nggak karena gue nggak mau terbang, gue juga nggak mau meluk dia. Ah bener-bener deh, cari kesempatan banget si Dicky. Apa sih mau dia? Aneh, batinku ngedumel.
Lama kelamaan, aku makin nyaman bisa seperti ini dengan Dicky. Aku merasa seperti mendapatkan sesuatu itu kembali. Tapi aku juga nggak tau sesuatu apa yang aku rasakan sekarang. Aku begitu nyaman bisa memeluknya. Saking terlalu nyaman, aku terlelap.
“Rumah elo dimana?” tanya Dicky memulai pembicaraan. Tapi tak ada jawaban dariku. Dicky merasa ada yang aneh, dia lalu memberhentikan motornya di pinggir jalan. Dicky agak sedikit menoleh kebelakang sambil menggerakkan pundaknya. “Eh, rumah elo dimana? Masa gue bawa elo ke TPU? Emangnya elo ada temen disana?” sahutnya meledekku. Tapi masih aja nggak ada jawaban.
Dicky terus menghentakkan pundaknya sampai akhirnya dia menyadari kalo aku tertidur. Dia menabok kepalanya sendiri. “Ya ampun, taunya nih nenek lampir tidur? Nyusahin banget sih nih anak. Gue bawa kemana dong?” ucapnya kebingungan.
Dia mengambil handphone di sakunya, lalu mengetik sebuah nomor dan menelponnya.
“Hallo...”

***

            Dicky menghentikan motornya didepan sebuah rumah yang mewah. Dia lalu membuka helmnya. Lagi-lagi dia menggerakkan pundaknya untuk membangunkan aku dari tidur.
            “Woy bangun! Udah sampe,” ujarnya kesal.
Aku pun jadi terbangun. Aku kaget kalo aku baru aja tidur dipelukkan. “Kok gue bisa tidur?” tanyaku.
“Mana gue tau. Intinya elo bisanya bikin orang susah,” katanya sambil menegaskan kata-kata –orangsusah- yang baru aja dia katakan.
“Sorry, sorry. Gue kecapekan banget,” ujarku bohong. Padahal itu gara-gara aku terlalu nyaman ada dipelukannya. Tapi ngapain aku ngaku itu semua sama tukang nyolotin kayak dia? Nggak deh, jangan harap.
“Yaudah turun lo,” bentaknya.
Aku pun turun dari motornya dengan jutek. Tiba-tiba ka Rangga keluar dari balik pintu rumah, lalu membuka pagar rumah dengan gegabah dan terlihat sedang senang.
“Ni, gue udah dapet kabar tentang Ichy,” sahutnya tanpa mengetahui keberadaan Dicky yang masih ngajak ribut sama aku. Dicky menunduk.
Aku menoleh ke ka Rangga. “Udah gue bilang kan sama lo, jangan bahas itu lagi. Males tau nggak, capek!!” teriakku.
“Iya-iya. Tapi awas aja lo kalo nanya kabar dia sama gue,” balas ka Rangga.
“Suka-suka gue,” sahutku lagi. Lalu ka Rangga masuk lagi ke dalam rumah.
“Ternyata elo emang hobi ngomel ya. Jadi nggak salah dong gue panggil elo nenek lampir?” tambah Dicky yang sejak tadi menguping pembicaraanku dengan ka Rangga.
Aku menoleh padanya. “Ah suka-suka elo deh. Males gue berantem terus sama elo. Thanks ya,” kataku yang langsung kabur masuk ke dalam rumah.

***

Keesokannya, aku berangkat ke sekolah terpaksa naik angkutan. Hari ini ka Rangga nggak bisa anter aku. Banyak alesan yang dia buat biar menghindari itu. Padahal aku tau banget, dia cuma nggak mau kayak supir. Lagian sejak kapan aku anggap dia supir? Aku anggap dia kakak kok. Dia aja yang lebay. Yaudah deh, mau nggak mau harus terima.
Setelah berpamitan dengan mama dan papa, aku berjalan keluar pagar. Tanpa ku sangka, mobil Morgan udah terparkir di depan rumahku. Ternyata dia nggak sendirian, disampingnya duduk seorang cowok seperti keturunan China. Aku agak sedikit bingung apa mau Morgan.
“Elo ngapain disini?” tanyaku.
“Gue mau nganter elo lah. Elo hari ini nggak ada barengan kan? Udah deh, elo ngaku aja sama gue. Oh iya, elo jangan kege-eran dulu. Gue sebenernya nggak sengaja lewat. Padahal gue cuma mau nyamper temen gue ini. Tapi karena rumah dia sama rumah elo nggak begitu jauh, yaudah gue kesini aja. Kali aja elo butuh tumpangan hari ini,” ujar Morgan menjelaskan.
Mampus deh gue, kayaknya gue nggak bisa boong sekarang. Mau nggak mau gue harus terima deh tumpangan dia. Yaudah deh nggak apa-apa daripada gue harus nunggu angkutan yang lamanya minta ampun, batinku mempertimbangkan ajakan Morgan yang terkesan tau keadaanku sekarang ini.
“Oke deh, gue bareng elo,” jawabku lalu masuk ke dalam mobil, lebih tepatnya di samping bangku supir yang duduki Morgan.
Setelah Morgan menancapkan gasnya, ada sesuatu yang mengganjal dihatiku. Nggak tau apa itu. Ditambah lagi temannya Morgan ini ngeliatin aku dengan berlebihan. Aku jadi kikuk nggak bisa bertingkah. Wajahku pucat pasi.
Morgan sesekali menatapku kebingungan. “Ni, elo kenapa? Kok pucat?” tanyanya.
Aku menoleh padanya dan tersenyum paksa. “Gu..gue.. nggak apa-apa kok, Gan,” jawabku singkat.
“Bagus deh. Oh iya, kenalin ini temen gue, namanya Rafael. Rafa, kenalin ini Eni yang sering gue ceritain sama elo,” ujar Morgan memperkenalkan kami.
Aku menatap Morgan heran. “Cerita tentang gue?” tanyaku heran, lalu menunjukkan telunjukku ke arah Rafael yang sedang tersenyum aneh. “Ke dia? Emangnya elo cerita apa sama dia tentang gue?” tanyaku lagi.
Morgan menggelengkan kepala. “Bukan apa-apa ko, Ni. Cuma cerita pas kita pertama kali kenalan di taman aja,” jawabnya. Aku pun mengangguk.
Rafael mengulurkan tangannya. “Kenalin, gue Rafael,” sapa Rafael.
Aku menyalaminya. “Gue Eni,” balasku lalu melepas salamannya.
Selama di perjalanan, kita ngobrol dan ketawa-ketawa bareng. Sampe nggak sadar kalo udah sampe di depan sekolahku. Aku pun berterima kasih dan berpamitan, lalu masuk ke sekolah.
Sesampainya di kelas, aku melihat sesuatu yang nggak aku bayangin sebelumnya. Dicky kelihatan lagi nggak bersemangat hari ini. Reza yang duduk disampingnya seperti sedang menenangkan hati Dicky. Aku nggak tau apa yang lagi terjadi. Dengan langkah diperlambat, aku terus menatap mereka berdua terutama Dicky.
Dicky kenapa ya? Kok kayak orang lagi galau gitu? Apa dia lagi ada masalah ya?, batinku khawatir. Aku pun duduk di tempatku. Aku baru menyadari hal  yang nggak wajar didiriku, aku langsung menggelengkan kepala. Eni, elo kenapa harus mikirin dia sih? Dia itu nyolotin nggak baik kalo di baikin. Dia juga sering ngajak ribut elo kok. Kenapa elo harus khawatirin dia sih? Kalo dia lagi galau bagus dong! Jadinya elo nggak usah repot-repot marah pagi ini, batinku ngedumel.
Aku memegang telingaku lalu menggelengkan kepala dan menutup mata dengan emosi. “Aaaarrrggghhh.....” teriakku.
Semua mata yang tadi sibuk dengan kegiatannya masing-masing, sekarang beralih menatapku. Aku membukakan mataku perlahan. Udah ada Bisma yang duduk disampingku dengan tampang aneh.
“Elo kenapa? Kok pagi-pagi udah teriak aja? Ada masalah? Cerita aja sama gue,” sahutnya memulai pembicaraan.
Aku menatap sekelilingku lagi, semua udah beralih ke kegiatannya masing-masing lagi. Aku lalu mengelus-elus dadaku, selamat. Tatapan ku tiba-tiba berhenti di belakang, dimana Dicky sedang duduk. Dia masih dengan keadaan yang tadi, diam dan murung. Biasanya, dia langsung marah dan membentakku lagi. Tapi ini beda banget dari kebiasaan dia sebelumnya. Aku masih terheran-heran.
“Hhh....” Bisma menarik nafas. “Eni, elo nggak apa-apa kan?” tanya Bisma lagi dengan nada sedikit ditekan.
Aku menoleh padanya. “Nggak, nggak apa-apa,” jawabku cepat.
Bisma menatapku tak yakin. “Bener?” tanyanya lagi.
Aku tersenyum dengan agak sedikit terpaksa. “Iya, Bisma. Udah deh, jangan khawatir,” ucapku berusaha untuk menenangkan Bisma biar nggak bertanya itu lagi yang udah bikin aku malu gara-gara diriku sendiri.
“Oke deh, gue percaya. Oh iya, nanti malem elo sibuk nggak?” tanya Bisma.
Aku berfikir sebentar. “Hhhmm.... kayaknya nggak ada deh. Kenapa emangnya?” tanyaku lagi.
“Elo mau dinner nggak sama gue?” ajaknya langsung dengan mantap.
Aku kaget sampe melotot padanya. “Elo ngajak gue nge-date?” sahutku.
Bisma mengangguk semangat. “Iya, nge-date. Elo mau nggak? Kalo nggak mau juga nggak apa-apa sih,” tambah Bisma.
“Gue pertimbangin dulu ya!,” ucapku agak sedikit nggak enak sama Bisma.
Tiba-tiba Fika datang dari balik pintu kelas, lalu berjalan menuju aku dan Bisma dengan senyuman yang cerah.
“Hai, lagi pada ngomongin apa nih? Kayaknya serius. Boleh tau nggak? Hehe,” sapa Fika bercanda, tapi bagiku dia serius. Karena aku tau, mungkin aja dia cemburu sama aku yang lagi ngobrol berdua sama Bisma.
Bisma tersenyum melihat kedatangan Fika. “Gue lagi ngajak Eni nge-date nanti malem. Elo setuju kan?” ujar Bisma semangat dan gembira, bikin beberapa orang di kelas denger.
Fika begitu kaget saat mendengar kata-kata Bisma barusan. Dia menatapku tajam dan penuh kebencian. Aku juga kaget Bisma bisa berkata seperti itu sama Fika. Apa maksud dia sih? Dia nggak tau apa, dengan cara dia bilang ini semua ke Fika, dia udah ancurin persahabatan aku sama Fika!
“Hah?” teriak Fika nggak percaya dan cuma itu yang bisa keluar dari mulutnya.
“Iya, kan elo pernah bilang sama gue. Kalo gue seneng, elo juga ikut seneng. Elo seharusnya seneng dong! Soalnya ini yang bikin gue seneng,” tambah Bisma.
Tatapanku beralih ke Dicky dan Reza yang berjalan keluar kelas. Ah masa bodo deh, sekarang gue harus ngurusin ini dulu! Gimana caranya biar Fika nggak marah sama gue, batinku tak pedulikan Dicky lagi untuk sementara.
Fika dengan marahnya berjalan keluar kelas dan hentakkan kaki yang keras. Bisma bingung melihat tingkah Fika yang sebelumnya ceria, sekarang marah-marah nggak jelas.
Aku menatap Bisma geram. “Aduuhh, Bisma. Elo seharusnya nggak bilang itu sama dia. Elo salah besar kalo harus bilang ini sama Fika,” bentakku lalu bangun dari kursi dan berlari keluar kelas menyusul Fika.
“Fika!!!!” teriakku sambil berlari mengejarnya. Tapi dia terus berlari tanpa memperdulikan aku. “Fika!!!! Gue mau jelasin semuanya!!!” teriakku lagi, dan masih nggak ada jawaban dari Fika.
“Elo mau kejar dia sampe benua Eropa juga nggak bakalan kekejar,” teriak seseorang seperti berbicara padaku. Aku berhenti lari lalu langsung mencari sumber suara itu. “Gue disini,” katanya lagi yang ternyata ada disampingku.
“Mau elo apaan sih? Gue kira urat omel elo udah ilang, taunya masih ada? Kenapa nggak ilang aja sih? Gue males debat terus sama elo. Apalagi debat yang nggak semestinya di debatin,” ocehku.
Reza menepuk punggung Dicky, berusaha menyabarkan hati temannya ini. “Elo juga sih Dick, seneng banget gangguin dia.”

***
Sepulang dari sekolah aku melihat Fika sudah berdiri di depan gerbang, lalu dengan setengah berlari aku menghampiri Fika. “ Fik tunggu, gue mau ngejelasin semuanya.”
Fika memandangku sinis. “ Apa yang perlu elo jelasin ke gue? Ini semua udah jelas Bisma suka sama elo, sedangkan gue apa Ni? Elo tau gue suka sama Bisma tapi elo malah setuju buat nge date sama Bisma elo itu bener-bener jahat Ni gue nggak nyangka elo sejahat ini sama gue.” jawab Fika ketus lalu jalan meninggalkanku yang memanggil namanya.
Selama di jalan Fika hanya diam saja. “ Kenapa elo tega banget sih Ni sama gue, gue salah apa sama lo sampe-sampe elo mau ngerebut Bisma dari gue. Gue benci sama elo Ni gue benci.” Kata Fika sambil menendang kaleng minuman.
“Aduhhh ....” kata orang yang kena timpukan kaleng minuman dan orang itu melihat ternyata seorang gadis. “ Woyy tunggu lo.” Teriak cowok itu.
Fika pun berhenti untuk melihat siapa yang memanggilnya dan betapa terkejutnya Fika ternyatta orang tersebut adalah Morgan. “ Morgan?”
Morgan pun tak kalah terkejut dan bercampur bahagia. “ Fika? Ngapain elo jalan sendirian?” tanya Morgan khawatir melihat mata Fika bengkak.
“ Oh, gue lagi pengen sendiri aja. Elo sendiri ngapain disini?” ucap Fika parau.
“ Gue tadinya mau marahin elo gara-gara elo udah nimpukin gue make kaleng bekas minuman.” Jawab Morgan.
Fika  membelalakan matanya. “ Upss, sorry Gan gue nggak tau tadi gue lagi kesel aja makanya gue tendang aja itu kaleng beka. Sekali lagi sorry ya emang yang sakit di bagian mananya.?” Tanya Fika khawatir.
Morgan hanya menggelengkan kepalanya. “ Nggak apa-apa kok Fik, lagian juga ntar sembuh. Tapi dengan satu syarat.?” Kata Morgan.
“Syarat apa?” tanya Fika bingung.
“Hmm.. ntar malem gue mau ngajakin elo dinner” jawab Morgan senang.
“Hmm... yaudah deh jam berapa elo mau jemput gue?” tanya Fika lagi.

“ Jam 7 malem, yaudah sekarang elo gue anter pulang aja gimana?” tawar Morgan lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar