Bab
1
Saat
ini aku tak tau berada dimana. Hanya ada cahaya putih yang menyinari tempat
ini. Dan aku seperti berdiri di sebuah awan yang dikelilingi langit yang sangat
terang. Entah tempat apa ini. Aku makin bingung dengan pakaianku saat ini. Aku
memakai long dress putih selutut dan bandana putih. Rambutku terurai panjang.
Aku berlari dan melihat di sekelilingku. Disana tak ada seorang pun yang
kulihat. Hanya ada aku seorang diri. Aku panik dan ketakutan. Mengapa aku bisa
ditempat ini? Dan mengapa aku memakai pakaian ini? masih banyak lagi pertanyaan
yang aku lontarkan dalam hati.
Aku
berhenti berlari lalu berusaha berteriak keras semampuku untuk mencari ada
orang disana atau tidak. “Ada orang disana????” teriakku kencang sekali sampai
bergema. Aku benar-benar ketakutan. Aku terus berputar melihat dan mengawasi
disekelilingku.
Tidak
ada tanda-tanda ada orang lain disini. Aku seperti berada di surga yang sangat
luas dan hanya seorang diri. Tempat ini memang indah berkat langit putih yang
menyinari tempat ini. Tapi, kalo sendirian disini mana aku berani? Aku kembali
berlari menjauhi tempat ini. Semakin jauh aku berlari, keadaan disini tetap aja
tidak ada tanda-tanda jalan keluar dari tempat ini.
Tiba-tiba
aku mendengar seseorang berjalan mendekati aku dari belakang, nafasku makin tak
beraturan menahan takut siapa yang akan mendekatiku. Agar terhindar dari
pikiran yang tidak-tidak, aku berbalik melihat siapa dia. Mulutku ternganga
saat melihat siapa orang itu. Wajahnya memang terlihat samar, tapi aku tau
siapa dia. Orang yang selama ini aku tunggu-tunggu. Aku langsung memeluk Ichy,
orang yang aku cintai. Itu nama panggilannya saat kecil. Aku menangis
dipelukannya. Ichy hanya terdiam, mulai membalas pelukanku dan mengelus lembut
rambutku.
Aku
melepas pelukannya dan memegang erat tangannya. “Chy, kamu kemana aja? Kamu tau
berapa lama aku nunggu kamu? 10 tahun, Chy. Bahkan satu bulan lagi genap 11
tahun aku nunggu kamu, tepatnya saat aku ulang tahun ke-17. Aku kangen sama
kamu,” ujarku terus terang.
Ichy
tersenyum senang, lalu mencium tanganku. “Aini, kamu tenang aja ya. Aku bakalan
balik kok sama kamu. Nggak lama lagi kita akan bertemu. Aku sekarang udah
pulang dari Seoul. Maaf yah aku nggak bilang sama kamu tentang kepergianku.
Soalnya ini mendadak, hari itu juga aku harus rapi-rapi ke bandara. Asal kamu
tau ya, aku juga kangen banget sama kamu. Makanya aku bawa kamu kesini. Kamu
apa kabar?” jawabnya menenangkanku.
“Aku
baik, kamu gimana? Kamu beneran udah balik? Sekarang kamu ada dimana?”
“Kabarku
baik, soalnya aku pengen banget ketemu sama kamu lagi,” jawabnya gombal, aku
cuma senyam-senyum aja. Sekarang tatapannya menjadi sedikit serius tapi tetap
lembut. “Aku nggak bisa kasih tau keberadaanku sekarang. Kalo kita jodoh, pasti
kita ketemu lagi. Bisa aja nanti kita satu sekolah, atau nggak sengaja ketemu.
Tapi seandainya kamu kangen juga sama aku, kamu sering-sering yah dateng ke
taman dulu kita main. Aku pasti akan nunggu kamu disana. Dan dihari kamu ulang
tahun, aku harap kamu dateng ke taman jam tujuh malam. Aku tunggu! Aini, aku
harus pergi sekarang. Kamu jaga diri baik-baik yah, aku selalu ada buat kamu.”
Ucapnya sambil mengelus pipiku dengan tangan kanannya dan aku memegang
tangannya itu.
Mataku
membulat. “Ichy, kita kan baru aja ketemu. Kenapa kamu harus pergi lagi sih?
Tolong jangan pergi,” pintaku memohon.
“Bye
Aini sayang,” katanya terakhir dan sekarang dia telah menghilang entah kemana.
Aku
melihat ke sekelilingku untuk mencarinya, tapi dia udah menghilang begitu aja.
Air mataku lagi-lagi ingin keluar. Aku pun berlari sambil berteriak memanggil
namanya berkali-kali dengan air mata yang mengucur deras.
“Ichy!!!!
Ichy!!!! Kamu dimana?? Ichy!!!!!” teriakku.
Tiba-tiba
aku terjatuh kedalam lorong yang gelap sekali dan berisik. Saking takutnya, aku
menutup kedua mata. Kedengarannya seperti bunyi jam beker yang bikin sakit
kuping. Dan badanku terjatuh. Kepala, lengan, punggung, dan kaki aku sakit
semua. Aku membuka kedua mataku. Ternyata aku jatuh dari ranjang!! Dan bunyi
beker yang berisik banget! Aku bangun sambil sesekali menguap, lalu mematikan
alarm jam beker.
“Ichy?
Dia ada disini? apa bener?” tanyaku sendiri.
Ohiya,
tadi kan gue nangis, batinku lalu aku menyentuh pipi dan mataku. Benar!!
Wajahku penuh dengan air mata. Mataku langsung membulat seketika.
“Ichy
semalem datengin gue? Aaahhh gue kangen banget sama dia. Gue harus rajin-rajin
ke taman nih. Dan gue nggak mau nyia-nyiain kesempatan ini,” kataku
bersemangat.
“Eeeennnniiiiiiiiiiii!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
suara cowok dari balik pintu kamarku sambil ketuk-ketuk pintu.
Dia
adalah kakak semata wayangku, namanya Rangga. Dia orangnya baik banget tapi
usil juga. Wajah aku dan ka Rangga mirip udah kayak anak kembar. Kulit kuning
langsat. Hidung juga rada mancung. Banyak deh kesamaan diantara kita. Dan sama
seperti adek kakak diseluruh dunia. Kita juga sering berantem. Itu udah nggak
asing lagi kalo didengar. Kak Rangga sekarang udah kuliah di Universitas Bina
Nusantara.
Aku
menghapus air mataku sebentar, lalu berdiri dan jalan menuju pintu untuk
membukakan pintu buatnya. “Apa? Bisa kan nggak teriak-teriak?” jawabku.
Matanya
terbelalak saat melihatku masih memakai pakaian tidur. Ka Rangga menatapku dari
bawah sampai atas. “Hah? Elo belom mandi? Ini udah jam 06.45,” omelnya sambil
menunjuk-nunjuk jam tangannya.
“Hah??”
kataku kaget, lalu memegang tangan ka Rangga dan melihat jam tangannya. “Iya
bener. Yah gue telat dong?”
Kak
Rangga menarik nafas sebentar. “Ya iyalah. Yaudah sana mandi, tinggal lima
belas menit lagi nih,” katanya.
“Iya,”
jawabku sambil masuk kedalam kamar dan mengambil handuk ungu kesayanganku. Lalu
berlari ke kamar mandi.
Kak
Rangga cuma bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkahku.
Aku
sekolah di SMA Perwira dan sekarang duduk di kelas dua. Hari ini adalah hari
pertama aku masuk di ajaran semester dua. Mungkin karena sering begadang pas
liburan, hari pertama ini aku jadi telat bangunnya. Tapi nggak apa-apa deh, aku
sekarang udah tau keadaannya Ichy kayak gimana. Dan dia ngajak aku ketemuan
juga. Walaupun itu cuma mimpi, aku nggak mau nyia-nyiain ini semua. Bisa aja
itu kenyataan, pesan dari dia buatku.
Tak
lama aku selesai mandi, lalu berganti baju dan rapi-rapi sebentar dengan kecepatan
lebih. Setelah selesai, aku turun kebawah dan menuju ruang makan sambil
berlari. Disana udah ada mama, papa, dan kak Rangga. Mereka semua baru aja
selesai sarapan.
“Sayang,
kamu nggak sarapan dulu?” tanya mama saat melihatku begitu tergesah-gesah.
Aku
meneguk segelas susu coklat kesukaanku yang udah disiapkan. “Susu udah cukup
kok, ma. Kak, jalan sekarang yuk! Buru-buru,” kataku setelah semua susu udah
masuk tenggorokan.
Kak
Rangga pun mengambil tasnya. “Pa, Ma, aku berangkat dulu ya,” salam kak Rangga lalu
berjalan menuju garasi mobil.
“Ma,
Pa, aku berangkat ya,” salamku juga lalu berlari menyusul kak Rangga.
“Hati-hati
dijalan,” teriak mama dan papa.
***
Aku
menutup pintu mobil yang terparkir depan gerbang sekolahku.
“Bye
ka,” ucapku lalu berjalan menuju pintu gerbang sekolah.
“Bye,”
jawab kak Rangga lalu mengegaskan mobilnya pergi dan melaju ke kampusnya.
Ternyata
masih banyak siswa yang ada diluar kelas, itu udah terlihat dari depan gerbang.
Ada yang baru dateng sama sepertiku, ada yang asik main basket, ada yang asik
ngobrol, dan masih banyak yang lain.
Ccccclllllllaaaaaaakkkkkkkk!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Cipratan
air mengenai kaki, kaos kaki, dan sepatuku. Aku pun berhenti berjalan. Ini
gara-gara seseorang yang masuk ke dalam sekolah barusan. Dia memakai motor
ninja hijau, dan dia terus aja masuk ke dalam menuju parkiran tanpa merasa
bersalah padaku. Mataku terbelalak saat melihat tingkah orang itu, nggak tau
sopan santun sama sekali. Bahkan sekarang sepatuku kotor gara-gara dia. Saking
kesalnya aku menghentakkan kaki.
“Dasar
cowok sialan! Ini kan hari pertama masuk sekolah, masa sepatu gue udah kotor
aja sih! Liat aja lo nanti gue bales,” kataku kasar, lalu melanjutkan jalan
masuk ke sekolah dan menuju toilet.
Sesampainya
di toilet, aku membersihkan sepatu, kaos kaki, dan kakiku dengan tisu yang udah
dibasahi air. Tiba-tiba Fika keluar dari balik salah satu pintu di toilet. Fika
ini sahabatku sejak masuk sekolah ini.
“Ni,
elo kenapa? Terus kenapa tuh sepatunya? Kok udah kotor aja?” tanyanya.
“Tadi
kecipratan air gara-gara cowok sialan yang nggak punya urat buat minta maaf,”
dumelku.
“Yaudah,
gue keluar duluan ya. Gue tunggu depan,” ucapnya lalu berjalan keluar toilet.
“Iya,”
Tak
lama sepatuku udah agak bersih, aku pun keluar dari toilet. Disana udah ada Fika
yang nungguin, udah kayak satpam kamar mandi. Hihihi...
“Fik,
kok belom pada masuk kelas sih? Padahal kan ini udah jam delapan?” tanyaku
sambil berjalan menuju kelas bersama Fika.
“Hari
ini kan hari pertama masuk, terus otak kita masih belom bisa nerima pelajaran.
Yaudah hari ini cuma maen aja. Baik banget kan pak Tono? Hhaha,” jawabnya
senang. Pak Tono itu kepala sekolah di sekolahku.
Aku
manggut-manggut mengerti. Tiba-tiba aku teringat dengan mimpi semalem. “Fik,
masa gue semalem mimpiin Ichy. Sahabat kecil gue dulu yang pergi nggak tau
kemana itu,” jelasku.
“Mimpi?
Mimpi kayak gimana?” tanyanya penasaran.
“Dia
bilang, dia selama ini pergi ke Seoul dan sekarang dia udah balik ke Jakarta.
Dia minta gue sering-sering ke taman kalo mau ketemu sama dia. Dan dia ngajak
ketemuan di taman itu pas gue ulang tahun,” terangku senang.
“Tapi
kan itu cuma mimpi, Ni? Lo percaya? Terus emangnya elo tau tampang dia sekarang
kayak gimana? Nanti kalo elo salah orang gimana? Kan banyak cowok yang sering
maen di taman itu,” ujar Fika tak yakin, dan membuatku berfikir lagi.
“Iya
sih cuma mimpi, tapi gue yakin kok dia kangen sama gue dan nitip salamnya lewat
mimpi gue,” jawabku.
“Emang
sih kalo kita mimpiin orang, dia lagi kangen sama kita. Tapi elo beneran
percaya sama yang begituan? Nanti kalo cuma mimpi asal doang gimana? Sama aja
elo nunggu harapan palsu,” jelas Fika.
“Gue
juga masih nggak tau ini bener atau cuma mimpi asal aja. Tapi gue udah kangen
banget sama dia. Elo tau kan kepergian dia bikin gue sakit banget? Sampe gue
sakit berbulan-bulan dulu? Jadi, gue nggak mau sia-siain ini, Fik,” kataku
sedih.
Fika
merangkulku. “Oke deh, gue tau rasa kangen elo nggak bisa terbayar dengan
apapun. Sama Ilham yang selalu deketin elo pun tetep aja nggak bisa ngilangin
rasa sayang dan kangen lo sama yang namanya Ichy Ichy itu,”
“Udah
deh, Ilham nggak usah dibawa-bawa. Gue males dengernya,”
Fika
hanya tertawa. “Hahaha... iya deh. Lagian elo nggak kasian apa sama dia? Dia
udah ngejar elo kemana-mana, Ni. Udah gitu dia selalu kasih hadiah buat elo. Lo
masih nggak mau sama dia? Tega banget lo, hahaha,” ujar Fika sambil mencolek
pipiku.
“Gue
kan masih nungguin Ichy, Fik. Lagian gue juga nggak suka sama Ilham,” jawabku
jutek.
“Nggak
usah jutek juga kali, Ni. Biasa aja! Hehe.. oke deh ya, kalo elo masih sayang
banget sama Ichy, elo kejar aja terus. Jodoh nggak kemana kok,”
Aku
menepuk punggung Fika. “Gitu dong.. itu baru yang namanya sahabat terbaik gue,
hahaha,”
“Nggak
usah nepuk berapa sih?” katanya jengkel.
“Maap
neng,”
“Oh
iya, dikelas kita kan ada siswa baru. Ada dua orang, cowok dua-duanya. Mereka
pindahan dari luar negeri. Keren ya?” ucap Fika menjelaskan.
“Mereka
temenan? Kok bisa barengan gitu?” tanyaku bingung.
“Nggak
tau deh,” jawab Fika sambil mengangkat bahu.
Tanpa
disangka udah sampe kelas aja setelah obrolan aku dan Fika yang panjang lebar
itu. Aku pun duduk ditempatku sendiri, begitu juga Fika yang duduk disampingku.
Tiba-tiba ada seorang cowok datang menemui aku dan Fika. Sebelumnya aku belum
pernah ngeliat cowok ini disekolah. Apa mungkin dia anak baru itu?
“Hai,
boleh kenalan? Gue siswa baru disini. Gue nggak ada maksud apa-apa kok. Gue
cuma mau nyari temen aja,” ucapnya.
Fika
yang sejak tadi memandang cowok itu dengan tatapan aneh, sekarang terlihat raut
wajah yang sumringah banget. “Iya iya. Nggak apa-apa kok,” jawab Fika, lalu
menjulurkan tangannya. “Kenalin gue Fika, elo?” ujar Fika memperkenalkan diri.
“Gue
Bisma,” jawabnya sambil menyalami uluran tangan Fika, lalu tatapannya beralih
padaku yang diam aja. “Nama lo siapa?”
“Gu......”
kata-kata ku terhenti saat Fika segera mengambil alih pertanyaan dari Bisma.
“Dia
Nuraeni, sahabat gue. Panggil aja Eni,” jawabnya bersemangat, dan aku cuma bisa
manggut-manggut kepala aja.
Fika
asik ngajak Bisma ngobrol bareng, aku malah ogah. Aku cuma bengong kayak orang
bego aja. Tiba-tiba aja aku keinget tentang cowok tadi yang udah seenaknya
ngotorin sepatu aku.
Kok
motor itu baru gue liat ya? Biasanya yang punya motor ninja disini itu warnanya
merah, nggak ada yang hijau. Berarti kalo dipikir-pikir bisa ketauan dong siapa
pemilik motor itu? Oh iya, kenapa nggak gue bales aja? Motor ninja hijau di
sekolah kan cuma dia yang punya, jadi bisa gue kerjain nih.. , batinku sambil
tersenyum licik.
Bisma
yang menatapku, kebingungan sama tingkahku barusan. Udah bengong nggak jelas,
sekarang senyumnya udah kayak orang jahat. Dia pun mencoba menyadarkanku, tanpa
memperdulikan ocehan Fika barusan.
“Ni,
elo nggak apa-apa kan? Masih sehat?” tanyanya.
Aku
pun tersadar, lalu menoleh padanya dan tertawa. “Hahaha... gue nggak apa-apa
kok,”
“Nah
loh? Kok sekarang ketawa? Lo beneran nggak apa-apa?” tanyanya lagi meyakinkan.
“Ya
elah Bis, dia mah sering aneh kayak gitu. Nggak usah diperduliin amat ah.
Lanjutin ngobrolnya aja ya! Elo kenapa pindah kesini?” ucap Fika.
“Oke
deh. Gue pengen pulang aja ke tempat asal gue di Jakarta, nggak enak tinggal
ditempat orang terus. Hehe..” jawabnya.
Mereka
asik aja ngoceh, aku pun pergi meninggalkan mereka.
“Gue
pergi sebentar ya,” izinku, lalu bangun dari kursi dan pergi meninggalkan
kelas.
Tak
lama aku pergi, Bisma pun juga ikut-ikutan pengen pergi.
“Fik,
gue ke toilet sebentar ya. Udah kebelet nih,” ujarnya bohong.
“Jorok
deh lo, yaudah sana,” usir Fika. Bisma berlari keluar kelas.
Aku
sedang berjalan di koridor sekolah sambil mendengarkan lagu memakai headsetku
dan memakan permen foxs kesukaanku. Tiba-tiba aja ada orang yang seenaknya
nyentuh pundakku, aku langsung melempar tangan itu.
“Apa
apaan nih?” ujarku kasar sambil melepas headsetku.
“Sorry,
sorry.. gue cuma mau tanya aja kok. Ruang kepala sekolah dimana ya?” tanyanya.
Aku
menatapnya dari atas sampai bawah, lalu balik lagi keatas. Dia juga jadi
kebingungan dengan tatapan anehku.
Kayaknya
nih orang baru gue liat di sekolah ini, apa mungkin dia murid baru? Jangan-jangan
murid baru dikelas gue lagi? Wah bisa gue kerjain dong, haha.. itung-itung bikin
sesuatu yang berkesan di sekolah barunya sekarang. Siapa suruh pindah sekolah
ke Jakarta? Udah tau lebih baik sekolah di luar negeri yang jelas-jelas
pendidikannya bagus banget. Hahaha.. saatnya beraksi, batinku jahat.
Cowok
berbehel ini menggerakkan tangannya di depan mukaku, membuat ku tersadar.
Secara refleks aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan mengedipkan mata.
“Elo
nggak apa-apa kan? Ruang kepala sekolah dimana ya? Gue dari tadi muter-muter
nggak ketemu,” ujarnya sambil garuk-garuk kepala. “Setiap orang yang gue
tanyain juga pada ngebohongin gue, semoga aja elo nggak ngerjain gue juga ya..”
ucapnya pasrah.
“Nggak,
gue nggak apa-apa kok. Oh elo murid baru? Pindahan dari mana?” tanyaku sok
perhatian.
“Iya
gue anak baru disini. Pindahan dari Perth,” jawabnya agak bersemangat.
“Waahhh....
Perth? Australia? Keren yah..” kataku sok simpatik.
“Ah
biasa aja kok. Nama lo siapa?” tanyanya sembari menawarkan jabatan tangan.
Aku
menjabat tangannya lalu tersenyum. “Kenalin gue Nuraeni, panggil aja Eni. Oke?”
jawabku.
Dia
kaget pas tau namaku. Tapi aku cuma diem aja, nggak nanggepin sikap dia yang
berubah jadi kaget mendadak begitu. “Elo? Nuraeni?”
Aku
melepas jabatan tangannya. “Iya, kenapa emangnya? Nggak boleh? Emangnya elo
siapa? Nenek moyang gue?” tanyaku galak.
Dia
jadi gelagapan gara-gara kegalakanku barusan. “Ng...nggak kok, nggak apa-apa. Kenalin
gue Dicky,” ucapnya.
“Oh..
eh iya, elo mau tau ruang Kepsek kan? Elo lurus aja, terus belok kanan sampe
mentok, abis itu belok kiri, disana cuma ada satu ruangan aja. Tempatnya emang
agak tersembunyi sih, biar nggak pada sembarangan gitu deh.. gue pun nggak
ngerti sembarangan apa yang dimaksud itu. Elo langsung masuk aja ya! Yaudah gue
duluan, bye,” kataku menjelaskan.
Tanpa
ada keraguan, dia langsung berjalan ke tempat yang udah aku tunjuk. Padahal aku
agak nggak enak hati juga sih udah bohongin cowok itu. Tapi kan nggak apa-apa
sekali-sekali ngerjain anak baru. Sebenarnya kan itu gudang, bukan ruang kepala
sekolah. Hahaha...
Aku
juga tanpa ragu, berjalan menuju parkiran. Sesampainya disana, aku berjalan
dengan hati-hati seperti mengendap-endap. Tak lupa aku mengawasi keadaan
disekeliling ku yang ternyata sepi banget. Ini kesempatan bagus buat ide ku
sekarang. Aku mencari-cari motor ninja hijau yang udah nyipratin genangan air
dijalan ke sepatuku. Tanpa mencari terlalu lama, aku udah ketemu motor itu.
Jelaslah aku cepet temuin motor itu, di sekolah Perwira ini cuma pemilik motor
itu yang punya motor ninja hijau. Biasanya kalo ada yang punya ninja, motornya
juga berwarna merah. Jadi, gampang banget ketebak.
Aku
berjalan mendekati motor itu, lalu jongkok di hadapan ban belakangnya. Aku
mengambil jarum yang ada disaku seragamku.
“Hahaha.... mampus loh,” kataku licik.
Aku
mendekatkan jarum itu ke ban motornya. Dan caraku berhasil, ban itu bocor.
Setelah ideku berjalan dengan lancar, aku bangun sambil menepuk tanganku.
“Berhasil
juga. Rasain lo! Siapa suruh cari masalah sama gue?! Sayangnya elo nggak tau
gue ya? Haha iya deh, emang elo nggak tau gue. Selamat berepot-repot ya,”
ujarku kepada diri sendiri, lalu pergi balik ke kelas.
Lagi
asik santai jalan sendiri di koridor sekolah, tiba-tiba aja ada yang menepuk
punggung aku dari belakang. Udah kaget banget, aku pengen jatoh pula. Aku pun
mengelus-elus dadaku sambil menoleh ke belakang. Ternyata itu Bisma. Ah
dikirain siapa. Kalo Dicky, mampus aja deh. Tamat riwayatku.
“Ah
gue kira siapa! Ngapain sih ngaget-ngagetin?” dumelku.
“Hehe..
sorry, Ni. Nggak usah ngomel dong! Entar cantiknya ilang loh,” godanya sambil
mencolek pipiku. Dengan cepat aku menjauhi wajahku.
“Apaan
sih lo nyolek-nyolek segala,” ujarku jutek.
“Kasar
banget sih lo. Tenang aja, gue nggak bakalan apa-apain elo kok. Emangnya gue
pencuri perawan galak,” ledeknya sambil mengedipkan mata.
Dengan
gerakan cepat aku mencubit lengannya. “Sialan lo. Segitu galaknya ya gue?
Hahaha,” tawaku.
Bisma
langsung mengelus-elus lengannya yang kesakitan gara-gara cubitanku barusan.
“Nggak usah nyubit dong. Sakit tau,” dumelnya kesal, tapi tiba-tiba dia tersenyum.
“Gitu dong ketawa, jangan galak-galak. Jelek loh nanti,” katanya masih aja
gombal.
“Dasar
gila. Hahaha,” ledekku.
“Eh
iya, elo laper nggak? Ke kantin yuk! Gue traktir deh, anggep aja traktiran
sebagai temen baru,” ajak Bisma.
Aku
berfikir sebentar. “Hhhmmm... Oke deh. Tapi jangan marah ya kalo gue banyak
makannya. Hahaha,” jawabku iseng.
“Oh,
elo makannya banyak? Tenang aja sama gue mah. Gue jabanin, apa sih yang nggak
buat Eni,” ledeknya lagi sambil mencolek daguku, lalu merangkulku dan berjalan
menuju kantin. “Yaudah ayo yuk!”
Baru
beberapa langkah aku berjalan, tiba-tiba aja ada tangan yang melepas rangkulan
Bisma dari pundakku. Aku dan Bisma menoleh ke orang itu.
“Lo
kenapa sih, Ham?” tanyaku kesal.
Ilham
menatap Bisma penuh kebencian. “Lo ngapain ngerangkul cewek gue? Pake
colek-colek lagi. Anak baru aja belagu lo, gimana udah lama disini?,”
bentaknya.
Aku
tersentak kaget saat mendengar perkataan Ilham barusan.
“Eni?
Dia cewek lo?” tanya Bisma.
“Eeeiiitttssss,
tunggu tunggu..” kataku menengahi, lalu menatap Ilham perihatin. Aku melipatkan
tangan, “Ilham, jujur ya! Setau gue, elo itu bukan cowok gue deh. Gue masih
inget banget loh, gue belom amnesia. Dan yang gue tau, elo yang ngejar-ngejar
gue. Kenapa harus bikin gosip yang nggak-nggak ya? Segitu besarnya ya elo
mengidam-idamkan gue?” ejekku tapi agak sedikit halus.
Ilham
langsung kaku terdiam. Bisma pun mengangguk-angguk mengerti.
“Oke
oke, gue ngerti maksudnya. Ohya Ni, dia siapa namanya?” tanya Bisma ingin
membalas ocehan Ilham yang nggak bener barusan.
“Ilham,”
jawabku singkat.
“Oh
iya, Ilham Ilham.. baru inget tuh gue,” ledek Bisma. “Ham, lo kalo ngomong
dijaga ya! Gue udah temenan kok sama dia. Dia juga nggak keberatan jadi temen
gue. Dan gue cuma bercanda aja sama Eni. Terus kenapa elo harus marah? Toh, dia
bukan siapa-siapa elo kan? Gue berhak dong jadi seseorang yang lebih dari
sekedar temannya dia? Udah deh ya, gue males ngeladenin orang yang tukang
ngayal kayak elo,” jelas Bisma. “Ni, kita pergi aja yuk,” ajak Bisma sambil
menarik tanganku.
***
Sambil
menikmati makanan hasil dari traktirannya Bisma, kita bercanda berdua.
Terkadang mesra-mesraan, gombal-gombalan, pukul-pukulan, cubit-cubitan, aahhh
pokoknya seru dan aneh deh. Bahkan banyak murid yang ngeliatin kita dengan
tatapan yang nggak biasa. Tapi aku dan Bisma cuek aja. Aku baru aja bertemu
Bisma dan mengenalnya, tapi terasa seperti udah kenal dia lama banget. Kita
juga sama-sama nyambung kalo ngobrol.
“Bapak
kamu tukang getek ya?” tanyanya ingin gombal.
Aku
sok berfikir. “Hhmm... nggak deh kayaknya,” jawabku menggeleng-gelengkan kepala.
“Udah
bilang iya aja. Bilang iya susah amat dari tadi,” kesalnya.
Aku
menyikut lengannya. “Begitu doang ngambek. Iya deh iya, bapak aku tukang getek.
Emangnya kenapa?”
“Karena
bapakmu telah membantuku menyebrang menuju hatimu,”
Dari
kejauhan udah terlihat Fika sedang berjalan menuju mejaku. Dia terlihat
cemberut.
“Eh
ada Fika tuh mau kesini,” ujarku sambil memberi aba-aba pada Bisma dengan
gerakan kepalaku.
“Mampus,”
katanya.
Bisma
menutup wajahnya dengan tangan dan ngumpet dibalik badanku. Sikap itu yang
membuatku bingung. Aku menoleh ke belakang.
“Bis,
elo kenapa? Kayak abis ngeliat nenek lampir aja. Hahaha,” ledekku.
“Fika
mau kesini? Ah mampus deh gue! Nanti gue ceritain. Gue pengen kabur dulu,”
katanya sambil berdiri dan masih dengan tangan yang menutupi wajahnya.
Aku
memegang tangannya, Bisma pun menoleh sedikit.
“Elo
mau kabur juga nggak bakalan bisa. Dia udah tau keberadaan lo. Mendingan elo
disini aja! Nggak enak tau,” ucapku.
Bisma
pun kembali duduk disampingku. Tapi sekarang dia udah membuka tangannya dari
wajahnya. Fika datang dan duduk didepan Bisma.
“Eh
Bis, gue tunggu-tungguin di kelas, eh elonya disini berduaan sama Eni. Kenapa
nggak bilang sih? Kalo bilang kan dari tadi gue kesini,” dumelnya pada Bisma.
“Sorry
sorry, sebagai tanda maafnya gue anter elo berdua pulang deh,” jawabnya
semangat. Aku dan Fika menatap Bisma antara senang dan tak yakin.
“Elo
beneran Bis?” tanya Fika tak yakin.
“Emangnya
elo mau anter kita pake apa? Bajaj? Mendingan nggak usah,” ledekkku masih
dengan tatapan yang sok senang dan senyuman.
Bisma
menghela nafas sambil menatapku lesu. Itu satu-satunya cara biar dia bisa sabar
menghadapi orang sepertiku ini. “Suka-suka elo deh ya mau bilang apa,” tutur
Bisma, lalu berbalik menatap Fika yang masih dengan tatapan percaya dan nggak
percaya, sama denganku. “Fika, kita kan baru kenal. Masa gue udah boongin elo
sih? Terus gue boongin cewek lagi, mana mungkin? Udah gitu gue ngapain boong?
Kan gue mau minta maaf,” katanya dengan kata-kata yang ribet banget buat
dicerna.
“Ah
Bisma bener-bener deh! Baik banget,” ocehku sambil mencubit pipinya sekeras
kerasnya.
Tampang
Bisma udah kesakitan banget, dia langsung mengelus-elus pipinya sambil sedikit
merintih. Fika agak sedikit panik, lalu memegang pipi Bisma.
“Eni
parah banget! Masa dicubitnya kayak gitu sih? Dia kan jadi kesakitan,” katanya
kesal padaku.
Alisku
mengkerut. Sejak kapan Fika jadi sok baik kayak gini? Sok perhatian kayak gini?
Sebenernya ada apaan sih? Lagian kan kita baru aja kenal sama Bisma. Iya sih,
aku juga sama seperti Fika. Baru beberapa jam kenal Bisma, tapi udah deket
banget. Tapi ada perbedaannya, kalo aku cuma sekedar bercanda. Sedangkan Fika?
Wah ada yang nggak beres nih. Batinku aneh.
“Nggak
apa-apa kali, Fik. Gue sama Eni dari tadi juga kayak gitu kali,” kata Bisma
membelaku, lalu menyenggolku. “Iya nggak, Ni?”
Dengan
gelagapan aku menganggukkan pertanyaan Bisma barusan. “Eehh....i...i...iyaa
Fik. Ada apaan nih? Kok belain Bisma? Jangan-jangan....” ledekku, sehingga
membuat Fika salah tingkah. Sepertinya dugaanku benar saat ini.
“Heh,
ternyata elo ada disini ya. Gue cari elo keliling sekolah, tapi elo malah
disini. Bangun lo,” bentak seseorang dibelakangku.
Aku
juga nggak tau siapa yang dia bentak. Fika, Bisma, atau aku? Entahlah, tapi
sekarang aku tau siapa yang dibentak. Fika menunjuk-nunjuk orang yang ada
dibelakangku sambil berbisik padaku. Aku tak tau apa yang dibisiknya, tapi yang
aku yakini sekarang, aku yang kena bentak orang itu. Mau tak mau aku menoleh ke
belakang. Mulutku ternganga sedikit, aku jadi gelagapan dan kaget.
“Elo?”
cuma itu yang bisa keluar dari mulutku.
Cowok
berbehel itu menatapku tajam dan kesal sambil menopangkan tangannya di
pinggang. “Elo sama aja ya kayak yang laen. Bisanya ngerjain orang aja. Iya gue
tau, gue murid baru disini. Tapi elo bisa kan jaga kelakuan elo? Kalaupun gue
murid baru, elo seharusnya ngehargain gue yang masih baru disini. Belom nyaman
dengan suasana disini,” terangnya kasar. Aku hanya bisa menunduk dan memainkan
kedua jari jempolku. Itulah kebiasaanku kalo sedang dalam keadaan yang buruk.
Aku
memberanikan diri menatapnya tegas. Gengsi dong kalo kita yang ngerjain dia,
terus kita yang dibentak sama dia. “Nyadar dong, gue tuh cuma bercanda. Kenapa
elo besar-besarin sih? Emangnya sesusah itu ya elo nyari ruang Kepsek? Katanya
udah keliling sekolah berkali-kali. Masa belom dapet juga? Itu mah elonya aja
yang kegenitan sama cewek,” balasku kasar dan galak juga.
Sekarang
semua murid yang ada di kantin, menatap keributan yang terjadi antara aku dan
Dicky. Bahkan ada yang berbisik, menyebarkan gosip yang nggak-nggak. Dan tambah
kesel lagi, Bisma dan Fika ikut-ikutan ngeliatin aja, nggak usaha buat
ngeleraiin kita berdua. Aku paling nggak bisa berantem sama cowok. Tapi aku
juga nggak mau kalah sama Dicky yang sok tiba-tiba hina aku.
Dicky
menatapku tak percaya. “Elo seharusnya juga nyadar. Siapa juga yang mau godain
cewek galak kayak lo? Elo tenang aja ya, gue udah ketemu kok sama Kepsek. Jadi,
elo nggak perlu lagi ngerjain gue,” bentaknya.
“Apa
elo bilang? Cewek galak? Lah elo behel karatan,” balasku lagi. Saking malasnya
ngeladenin orang kayak gitu, aku pergi ke kelas. Fika dan Bisma mengikutiku di
belakang.
“Awas
lo, lain kali gue balesss!!!!!!!!!” teriaknya, tapi aku tak menghiraukannya.
***
Bel
pulang pun berbunyi, aku, Fika dan Bisma berjalan menuju parkiran mobil. Selama
diperjalanan, kita bercanda bareng. Sesampainya di parkiran, aku melihat
sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku. Aku teringat akan balas dendamku tadi
pagi. Aku berpamitan kepada Fika dan Bisma, kalau aku permisi ke toilet
sebentar. Dengan mengendap-endap, aku berdiri di suatu tempat yang nggak
terlihat dari parkiran, tapi dari sini aku bisa melihat parkiran dan tepat pada
motor ninja hijau itu.
Banyak
murid berjalan menuju motor mereka masing-masing. Dan rata-rata kaum laki-laki.
Tiba-tiba aja dateng cowok yang bikin rusak mataku yang indah ini. Sepertinya
tujuan dia kesana sama dengan yang lain, ngambil motor dan langsung cusss pergi
nggak tau kemana.
“Apaa?????”
bisikku kaget, lalu menutup mulutku dengan telapak tangan.
Aku
benar-benar kaget dan tak percaya. Ternyata pemilik motor itu Dicky. Si behel
karatan yang udah bikin aku malu di kantin tadi siang. Aku masih nggak nyangka
kalo dia pemilik motor itu. Aku pasti nggak akan berenti berantem sama dia dan
akan selalu musuhan kayak kucing dan anjing, nggak ada rukun-rukunnya. Dengan
gerakan cepat, aku langsung lari pergi menyusul Fika dan Bisma yang udah pasti
nungguin aku.
Tanpa
nyasar nyari mobil Bisma, aku langsung masuk kedalam mobil. Nafasku jadi nggak
beraturan gara-gara lari barusan. Aku pun berusaha menenangkan diri sebentar.
Fika dan Bisma sepertinya bingung juga.
“Ni,
elo ngapain lari-lari kayak dikejar anjing? Katanya dari toilet,” ujar Fika
aneh.
“Tau
nih. Yaudah kita langsung jalan aja ya,” lanjut Bisma yang langsung menancapkan
gasnya keluar sekolah.
Selama
diperjalanan, aku menceritakan tentang kejadian tadi pagi di parkiran sampai
yang barusan aku mata-matai. Fika langsung melotot padaku.
“Eni,
elo parah banget ya. Kalo dia sampe tau gimana? Wah elo bisa kena imbasnya,”
kata Fika memberi peringatan padaku.
Aku
hanya bisa menundukan kepala. “Iya-iya. Gue tau ko. Tapi kan gue nggak tau kalo
itu motor dia,”
“Yaudahlah,
nggak usah disesalin. Toh, udah kejadian ini. Tapi jangan sampe dia tau aja.
Nanti dia bisa lebih kasar lagi sama elo,” tambah Bisma yang sedikit membelaku.
Aku hanya bisa menghela nafas.
“Tapi
kan cowok kayak dia harus dikasih pelajaran biar nggak songong lagi. Belom
kenal aja udah nyari ribut, apalagi kalo udah kenal? Ih amit-amit gue kenal
sama dia. Biarin aja deh kalo itu motor dia atau bukan. Yang penting dia udah
ngajak ribut duluan sama gue,” dumelku dengan agak kasar.
Cccccccccccciiiiiiiiiiiiitttttttttttttt!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Itulah
suara mobil Bisma saat mengerem sangat pakam. Dia nyaris aja nabrak mobil di
depannya. Aku, Fika, dan Bisma kaget sampai tak bisa berbicara apa-apa lagi.
Bahkan aku lupa apa yang sedang dibicarakan barusan. Aku masih tak menyangka
dengan kejadian barusan. Untungnya Bisma hanya nyaris nabrak, nggak bener-bener
nabrak. Tapi tetep aja bikin jantungku dan Fika hampir mau copot.
“Bisma,
elo kalo bawa mobil yang bener kenapa! Kalo dia tau gimana? Terus dateng
nyamperin kita? Dan kalo mobil dia ada yang lecet gimana?” oceh Fika ketakutan.
Dan
benar perkataan Fika barusan, pemilik mobil itu keluar dari dalam mobil, lalu
berjalan kebelakang melihat keadaan mobil hitamnya. Aku, Fika, dan Bisma makin
ketakutan sampai gemetaran saat pemilik mobil itu mendekat mobil yang kita
tumpangi. Lelaki itu langsung mengetuk kaca mobil Bisma. Dengan gemetar, Bisma
membukakan kaca mobilnya.
“Sorry-sorry
gue nggak sengaja,” kata Bisma meminta maaf duluan.
Lelaki
itu menatap Bisma jengkel. “Masih untung nggak ada yang lecet dimobil gue. Kalo
ada, gue bisa lakuin apa aja sama lo,” teriaknya kesal.
Bisma
menghela nafas lega, diikuti aku dan Fika.
“Eits,
nggak segampang itu elo bebas dari gue,” katanya memberi peringatan.
“Loh?
Kok gitu sih? Mobil elo kan juga nggak kenapa-kenapa,” jawab Fika membela
Bisma.
“Elo
nggak usah perpanjang masalah dong,” sewot Bisma.
Cowok
itu menarik nafas panjang sambil menatap langit, lalu kembali menatap Bisma. “Gue
tau elo itu anak SMA Perwira. Sedangkan gue, gue anak SMA Bakti, dan gue anak
basket,” ujar cowok itu dengan tatapan yang sinis saat mengucapkan kata-kata
terakhir.
Aku
dan Fika saling bertatapan kaget. Dia anak SMA Bakti? Dan anak basket? Mampus
aja deh kita. SMA Bakti itu adalah musuh bebuyutannya SMA Perwira. Saat ini
kita dalam masalah besar. Aku kan juga belum tau Bisma bisa basket atau nggak!
Kalo nggak bisa gimana? mampus deh kita.
“Terus
kenapa? gue peduli?” jawab Bisma menantang.
Aku
pun langsung gigit jari. “Bisma, dia itu sekolah di sekolah yang dari dulu udah
jadi musuh sekolah kita,” bisikku pada Bisma. Mata Bisma langsung membulat.
“Gue
mau ngajak elo tanding basket antar sekolah, tapi dengan taruhan. Kalo elo mau
tau taruhannya apa, elo dateng lagi kesini jam tujuh malem. Itu pun kalo elo
nggak cemen,” tuturnya santai.
“Oke,
gue terima ajakan elo,” jawab Bisma tegas.
“Gue
tunggu,” katanya lagi, lalu pergi ke mobilnya.
“Elo
beneran mau tanding basket sama dia?” tanya Fika khawatir.
Bisma
pun memegang lengan Fika yang ada disampingnya untuk meyakinkannya. “Tenang aja
Fik. Basket mah gampang. Shuffle pun gue jabanin, hahaha,” jawabnya enteng.
“Emangnya
elo bisa shuffle?” tanyaku.
“Yah,
gue mah udah berkali-kali dapet penghargaan,” jawabnya lagi dengan bangga.
“Ajarin
gue dong,” lanjut Fika.
“Kapanpun
gue bersedia, haha,” ujar Bisma sambil tertawa.
***
Keesokan
harinya, seperti biasa, aku diantar sama ka Rangga. Keadaan didalam begitu
hening, hanya terdengar suara kendaraan yang lalu-lalang kesana kemari. Ka
Rangga agak bingung dengan sikapku pagi ini, nggak biasanya aku udah bengong
pagi-pagi begini. Ka Rangga langsung menegurku.
“Eh
Ni, ngapain bengong? Udah pagi gini malah bengong, nanti kesambet loh,” tutur
ka Rangga ingin meledek.
Tapi
ledekkannya tak ku balas, malahan aku masih dengan tatapan yang datar. “Ka, gue
kangen sama Ichy,” ucapku jujur.
Ka
Rangga mengangguk-angguk mengerti apa yang terjadi padaku sekarang. Kebingungannya
tadi udah terjawab. “Elo pasti bisa ketemu sama dia lagi. Gue juga udah dapet
kabar dari mama, kalo Ichy dan keluarganya udah ada di Jakarta,” lanjut ka
Rangga ingin menenangkanku, tapi ini bukan menenangkan. Ini penyiksaan bagiku.
Seolah-olah ka Rangga ingin aku selalu menanti Ichy yang tak kunjung datang
padaku. Aku harus tetap menunggunya, menantinya, dan terus berharap yang udah
membuatku capek. Tapi aku juga nggak bisa ngilangin rasa ini, aku udah
berkali-kali berusaha membuang perasaan ini. Hasilnya pun selalu sama, aku
nggak bisa ngelakuin itu semua. Dengan begitu aja air mataku langsung membasahi
pipiku. Ka Rangga agak sedikit panik. “Ni, elo kenapa? ko nangis? Elo kan
seharusnya seneng dia ada di Jakarta,” tambahnya. Dan aku menangis lebih keras
lagi dari sebelumnya.
“Kaka
jangan bilang itu lagi dong,” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku sekarang.
Ka
Rangga menghentikan mobilnya. “Iya-iya, gue nggak bilang itu lagi. Tapi elo
juga jangan nangis lagi dong. Kita udah di depan gerbang nih,” jawabnya sedikit
membujukku.
Aku
menghapus air mataku dengan kedua tangan. Tiba-tiba ka Rangga menawarkan tisu
basah padaku. Secepat kilat aku mengambilnya. “Makasih ka,” ucapku.
Ka
Rangga mengangguk. “Iya. Yaudah sana masuk,” ujarnya agak sedikit mengusir. Aku
menoleh padanya dengan agak sinis. Ka Rangga pun langsung cengar cengir.
“Matanya biasa aja dong, Ni. Hehe,”
Aku
pun keluar dari dalam mobil dan berjalan memasuki gerbang. Tiba-tiba sebuah
motor berhenti disampingku dan pemiliknya membuka helmnya.
“Ternyata
cewek galak bisa nangis juga ya? Baru tau gue. Biasanya yang gue tau cewek
galak itu tukang ngomel kayak mak lampir,” ujar Dicky meledekku.
Mana
mungkin aku tinggal diam aja, bikin panas kata-katanya barusan. Aku menatapnya
tajam dan penuh kekesalan. “Elo maunya apa sih? Belom puas kemaren udah
malu-maluin gue di kantin? Apa elo emang nggak tau malu?” balasku kasar.
“Heh
nenek lampir, suka-suka gue dong mau kayak gimana. emangnya penting buat elo?”
katanya kesal.
“Iiissshhhh........”
aku udah males ngeladenin orang kayak dia, langsung aja aku pergi ke dalam
sekolah ninggalin orang yang nggak tau malu kayak gitu.
***
Bel
pulang pun berbunyi, aku, Fika dan Bisma langsung pergi ke lapangan basket. Bisma udah konfirmasi
dengan kelompok basket di sekolah kita, dan mereka menyetujui pertandingan ini.
Hanya ada satu alasan mereka menyetujuinya, yaitu mereka nggak mau kalah sama
musuh. Setiap ada pertandingan dengan sekolah Bakti, sekolah kita nggak pernah
nolak. Emangnya SMA dia aja yang bisa, sekolah kita juga bisa, hihi..
Aku
dan Fika menemani Bisma selama latihan basket. Fika begitu semangat menunggu
Bisma dan melihatnya latihan. Sedangkan aku, aku malah males banget di ruangan
ini. Bukan karena nggak mau bantu dan beri dukungan sama Bisma, tapi ada
seseorang disana yang bikin aku gondok banget siang ini. Kenapa dia harus ikut
klub basket juga sih? Bikin rusak mata aja, batinku kesal.
Tiba-tiba
terlintas sebuah pertanyaan yang ingin aku tanyakan. “Fika,”
Fika
menolehkan kepala padaku. “Kenapa, Ni?” tanyanya.
“Gue
mau nanya sesuatu sama lo,” ujarku agak sedikit kikuk.
“Mau
tanya apaan emangnya? Ribet banget kayaknya. Kalo mau nanya ya nanya aja,”
jawabnya santai.
“Iya
deh iya. Elo suka ya sama Bisma?” terangku, Fika langsung kaget mendengar
pertanyaanku barusan. Dia terdiam. Aku pun jadi nggak enak sama Fika. “Fik,
sorry. Gue nggak ada maksud apa-apa kok. Kalo lo nggak mau jawab juga nggak
apa-apa,” tambahku lagi.
Lalu
Fika memegang kedua tanganku dan menatapku dalam-dalam. “Iya gue suka sama
Bisma. Tapi gue minta sama lo, elo jangan bilang siapa-siapa ya,” jawabnya
jujur dan meminta padaku.
Aku
mengangguk mengerti dan mengiyakan permintaannya. “Iya, gue nggak bilang
siapa-siapa. Tapi elo juga harus ambil hati dia ya. Sebelum ada yang ngambil
dia dari lo,” tuturku mengingatkan sahabatku ini dengan tersenyum indah.
Setengah
jam kemudian, Bisma dan kawan klubnya selesai latihan hari ini. Baju seragam
olahraga Bisma udah bercucuran keringat udah kayak orang mandi. Fika dengan
sigap mengambil handuk kecil dan sebotol air minum, lalu berlari kearahnya. Aku
sih diem aja. Dengan tampang bete, aku menopangkan wajahku dengan tangan. Lalu
aku memalingkan wajah dari semua anggota klub basket yang sedang berjalan
mengarah padaku. Mereka bukan ingin mendekatiku, tapi mereka ingin istirahat
dan mengambil tasnya masing-masing yang berserakan disekitarku.
Ada
seorang cowok duduk disampingku, tapi aku tak mempedulikannya. Dia meneguk air
begitu banyak. “Ngapain lo disini?” tanyanya sinis padaku.
Aku
pun menoleh padanya, lalu menghela nafas pasrah. “Penting ya buat lo?” tanyaku
sinis juga padanya.
“Gara-gara
elo tau nggak, gue jadi harus ikut pertandingan. Padahal gue baru hari ini ikut
latihan. Emang bisanya nyusahin orang aja ya lo,” tambahnya lagi yang bikin
panas kupingku ini.
Aku
melotot tajam padanya, tapi dia malah membalasnya lebih tajam dariku. Aku lalu
berdiri, diapun juga ikut berdiri. “Itu bukan salah gue. Dan disini nggak ada
yang salah, tapi elonya tuh yang salah. Ngapain lo masuk klub basket? Berasa
udah jago lo? Atau mau genit sama cewek satu sekolah ini?” kataku sambil teriak
kesal. Teriakanku ini membuat semua mata menatap perkelahian aku dan Dicky, sih
behel karatan nggak tau malu ini.
“Heh
panci bolong, gue disini mau nerusin hobi gue. Dan emangnya elo ada hak buat
ngatur-ngatur gue masuk exskul apa? Ortu gue aja nggak ada hak, apalagi elo
yang bukan siapa-siapa gue. Terus elo juga ngapain disini? Mau genit sama cowok
disini? Lo pikir lo cantik? Cewek galak kayak elo mana ada yang mau,” balas
Dicky kesal.
“Heh
besi karatan, gue disini mau bantuin dan kasih support ya buat temen gue. Elo
jangan kege-eran deh. Gue juga nggak anggep gue cantik ko. Elonya aja tuh yang
berlebihan,” dumelku kasar.
Tiba-tiba
Reza datang berusaha meleraikan kami berdua. “Dick, Ni, ngapain kalian
berantem? Nggak baik tau nggak. Bis, bawa Eni pergi nih. Gue bawa Dicky,” ujar
Reza. Bisma pun membawaku pergi keluar ruangan, dibelakang ada Fika yang
mengikuti kami. Sedangkan Reza, membawa Dicky ke ruang ganti.
***
Perkelahian
aku dan Dicky membuat aku dicuekin abis-abisan sama Bisma dan Fika. Nggak seru
banget. Semua hening nggak ada satu pun yang memulai pembicaraan. Emang sih ini
aku yang salah, dan aku juga ngerasa bersalah. Tapi kan yang awal ngajak ribut
juga bukan aku. Kenapa aku yang harus di cuekin? Nggak adil banget buat aku.
Makin benci aja deh sama behel karatan yang nggak tau malu kayak gitu.
Aku
udah males banget sama suasana di mobil yang nggak seru kayak gini, lebih baik
aku aja yang memulai pembicaraan. “Lo berdua marah sama gue?” tanyaku rada
kesal.
“Sedikit,”
jawab Fika singkat. “Elo bisa kan nggak berantem terus sama Dicky? Lagian apa
sih yang kalian ributin? Nggak ada kan? Emang aneh deh elo berdua,” tambah
Fika.
“Gue
disini nggak berpihak sama siapapun. Soalnya elo berdua salah. Dicky nge-judge
elo duluan, seharusnya elo diemin aja. Tapi elo malah bales dia, yah makin
menjadi aja deh,” lanjut Bisma.
Kita
ternyata udah sampe dirumah Fika. Bisma pun mematikan mesin mobilnya. Sebelum
turun, Fika menatapku sebentar.
“Ni,
elo jangan berantem terus ya sama Dicky. Kalo perlu lo baikan sama dia,”
pintanya, lalu menatap Bisma tersenyum. “Thanks ya, Bis,” katanya lalu membuka
pintu mobil dan keluar dari dalam mobil.
Aku
hanya diam. Rada gondok juga harus baikan sama behel karatan kayak Dicky. Udah
tau yang salah dia, kenapa harus aku yang minta baikan? Biarin deh aku ikutin
aja maunya dia apa, sampe bosen.
Setelah
Fika keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah, Bisma menghidupkan mesin lalu
mengegaskan mobilnya menuju rumahku.
“Bisma,”
panggilku agak takut.
“Iya
apa?” tanyanya singkat.
“Elo
taruhan apa sama cowok itu?” tanyaku langsung.
Bisma
jadi kikuk nggak jelas. “Gue...gu..guee...” Bisma terus berpikir keras untuk
menjawab pertanyaanku barusan.
Aku
terheran. “Taruhan apaan emangnya, Bis?” sahutku ingin tau.
“Ada
deh pokoknya. Gue harus latihan terus nih, soalnya dia bilang dua minggu
kedepan kita mulai tanding,” elak Bisma.
“Emangnya
dia siapa sih? Kok bisa sok banget kayak gitu? Mentang-mentang di anak SMA
Bakti,” ucapku kesal.
“Dia
namanya Morgan. Gue juga nggak tau, gue kan baru disini,” jawab Bisma. Aku pun
mengangguk mengerti.
***
Esok
sorenya, aku menyempatkan waktu pergi ke taman. Aku masih teringat dan
terbayang-bayang dengan mimpiku waktu itu. Aku berharap banget mimpi itu
benar-benar datang dari Ichy yang juga kangen sama aku, sampe-sampe dateng ke
mimpiku waktu itu. Disana banyak orang berdatangan, dari yang bayi, balita,
anak-anak, remaja, ibu-ibu, bapak-bapak, sampe yang tua pun ada disana.
Aku
berjalan sambil melihat-lihat taman itu. Udah lama aku nggak kesana dan
menghirup udara segar disana. Sejak kepergian Ichy, aku udah nggak pernah
kesana lagi. Aku berfikir, Ichy udah membuangku seperti sampah. Aku dibiarkan
menunggunya sampai tak berdaya seperti ini. Karena itu aku menjauhi tempat ini.
Tapi sejak mimpi itu, aku memberanikan diri untuk datang kesini. Aku punya
harapan banyak disini, aku berharap Ichy ada disini.
Saat
aku sedang berjalan dengan pandangan lurus kedepan, dari samping kiriku
tiba-tiba ada sepeda ingin menabrakku. Secara spontan aku berteriak dan menutup
wajahku.
“Elo
kalo jalan hati-hati dong. Nggak tau ada sepeda apa?” bentaknya padaku.
Aku
pun membuka mataku dan tangan dari wajahku. Aku kaget melihat siapa yang
mengendarai sepeda itu. Dia juga ikut kaget saat melihatku. “Elo ngapain
disini? Yang ada tuh elo yang hati-hati. Nggak liat di depan elo ada orang
jalan?” sahutku geram.
“Heh
tikus got, lagian elo ngapain sih kesini? Ganggu suasana hati gue tau nggak!”
omel Dicky.
“Heh
tikus kelindes truk, emangnya elo puny hak ngatur-ngatur gue? Kalo gue tau
disini ada elo, gue juga nggak bakalan kesini,” balasku.
“Sekarang
elo udah tau kan kalo ada gue disini? Kenapa elo nggak pergi aja sekarang?”
katanya ingin mengusirku.
Tiba-tiba
ada seseorang memegang tanganku. “Jangan beraninya sama cewek dong lo,”
bentaknya ke Dicky. “Elo ikut gue sekarang,” kata Morgan padaku.
Aku
dan Morgan pergi menghindari Dicky, sih behel karatan itu. Aku nggak tau akan
dibawa kemana sama dia. Tapi aku ikutin aja kemana dia mau. Kalo mau pergi juga
susah, tanganku ditarik terus sama dia. Pasrah ajalah. Dia menghentikan
langkahnya di kalangan anak-anak yang lagi asik main layangan. Aku jadi
terheran-heran, apa maksud dia mengajakku kesini?
“Elo
belom kenal gue tapi udah seenaknya bawa gue kesini. Mau lo apa sih?” tanyaku
sinis.
Tanpa
ku perkirakan, dia langsung tersenyum. Senyumannya indah banget buat dipandang.
“Gue cuma mau berteman aja ko sama lo. Nggak boleh ya?” sahutnya, lalu
pandangannya berganti ke layangan yang sedang menari-nari di langit. “Iya sih
gue tau, gue udah buat hal yang aneh sama temen elo itu. Gue cuma mau dapet apa
yang gue mau ko,” tambahnya lagi.
“Maksud
elo apa?” tanyaku. Sekarang aku makin heran dengan maksud pembicaraan dia.
“Nanti
aja deh gue jelasinnya,” ucapnya, lalu menawarkan jabatan tangan. “Kenalin gue Morgan,”
sapanya.
Aku
menerima jabatan tangannya dengan senyuman. “Gue Eni,”
Morgan
melepas jabatan tangannya, lalu mengambil layangan yang ada dibawah kakinya.
Lagi-lagi aku nggak tau apa maksud dia.
“Daripada
elo gondok gara-gara cowok tadi, mendingan kita main layangan,” ajak Morgan.
Aku
cuma cengengesan aja mendengar ajakan Morgan barusan. “Gue nggak bisa,”
“Hhh...”
Morgan menghela nafas. “Gue juga tau karakter cewek kayak gimana. yaudah gue
ajarin. Gue juga udah yakin kok elo nggak bisa main layangan. Bisanya main
boneka aja kan?” ledeknya.
Dengan
gerakan cepat aku mencubit lengannya dan langsung dapet ringisan kecil dari
mulut Morgan. Sambil meringis kesakitan, dia mengelus-elus lengannya.
“Sakit
tau,” dumelnya.
“Lagian
elo duluan. Yaudah ayo ajarin gue main layangan,” ajakku.
Setelah
agak mendingan, Morgan langsung mengajari aku main layangan. Mulai dari
melayangkan layangan ke udara, sampai menghindari dari layangan yang lain biar
nggak putus layangannya. Disana kami tertawa dan bersenang-senang bareng. Aku
nggak tau kenapa aku langsung akrab sama dia. Yang ada dipikiranku sebelumnya,
semua anak SMA Bakti itu sombong dan angkuh semua. Ternyata ada juga yang nggak
kayak gitu. Morgan baik, ramah, dan perhatian banget. Sambil memainkan
layangan, tanganku dan Morgan bersentuhan, Morgan pun ada dibelakangku untuk
memandu dan membantuku. Keliatannya udah kayak orang pacaran aja.
“Idiiihhh...
nenek lampir bisa juga mesra-mesraan? Emangnya dia doang yang bisa maen
layangan? Gue juga bisa,” kata Dicky yang tiba-tiba ada disampingku sambil
berusaha menerbangkan layangannya.
Ganggu
suasana aja sih ini orang. Gue tampar baru tau rasa. Udah deh males gue
ngurusin dia, suka-suka dia mau ngapain, batinku menyabarkan diri. Aku pun tak
menggubris perkataan dia.
Tak
lama, Dicky udah bisa menerbangkan layangannya. “Liat nih, gue juga bisa kan
maen layangan? Yaahh, layangan mah kecil. Begitu aja nggak bisa,” katanya
menghinaku.
Aku
udah kehabisan kesabaran menghadapi orang kayak dia. Aku pun memberikan
layangan itu pada Morgan. Dan dia berpesan untuk nggak membuat keributan
disini. Aku mengangguk mengerti untuk mengiyakan perkataannya. Aku berjalan
kehadapannya.
“Mau
lo apaan sih? Ganggu aja tau nggak sih lo,” ujarku kasar tapi agak sedikit
diperhalus.
“Kata
orang itu, kalo ada yang pacaran, pasti ditengahnya ada setan. Daripada dihuni
sama setan, mendingan sama gue aja. Elo dapet untung juga kan? Nggak diganggu
sama setan? Seharusnya elo berterima kasih sama gue,” ujar Dicky yang masih
berkonsentrasi bermain layangan.
“Emang
dasar lo, strees,” sahutku yang merasa aneh dengan jawaban Dicky yang nggak
masuk akal itu. Lalu aku berjalan lagi kearah Morgan. “Kita pergi aja yuk.
Kasih aja layangannya ke anak itu,” ajakku sambil menunjuk kearah anak kecil
yang cuma bengong ngeliatin layangan.
Morgan
pun memberikan layangannya kepada anak itu. Lalu aku dan Morgan pergi
meninggalkan Dicky. Disaat lagi asik keliling, aku bertemu dengan Bisma dan
Fika yang lagi asik mesra-mesraan. Tapi sepertinya yang mesra Fika, bukan
Bisma. Mereka berdua kaget melihat aku disana dengan Morgan. Morgan juga kaget
melihat Bisma dan Fika disana.
“Elo?”
ucap kami berempat.
Bisma
langsung menarik tanganku dan membawaku pergi dari sana. Morgan dan Fika
kebingungan melihat kepergian kami berdua. Lalu Morgan menatap Fika senang.
“Elo
sama gue aja yuk. Kita cari udara segar aja disini,” ajak Morgan.
“Nggak-nggak.
Mendingan gue nunggu temen gue daripada pergi sama lo,” tolak Fika.
“Elo
mau sendirian disini? Elo nggak gue apa-apain ko. Tenang aja deh sama gue. Gue
cuma mau kenal aja kok sama elo, nggak ada maksud lain,” ujar Morgan berusaha
meyakinkan Fika. Fika pun terbuai dengan ucapan Morgan barusan, lalu dia pergi
bersama Morgan keliling taman.
***
Setelah
jauh dari keberadaan Fika dan Morgan, Bisma menghentikan langkahnya. Aku pun
juga begitu. Apa sih maksud dia bawa aku kayak gini? Aneh banget.
“Elo
kenapa harus sama dia sih?” tanya Bisma khawatir.
“Loh
kenapa? gue tadi nggak sengaja kok ketemu sama dia. Terus dia ngajak gue main
layangan aja,” jawabku.
“Oke,
gue mau jujur sesuatu sama lo,” ucap Bisma.
Aku
bingung. “Jujur tentang apa?”
“Gue
sama dia, taruhan cewek,” sahut Bisma yang membuatku kaget tak percaya.
“Gara-gara
cewek doang? Emangnya dia siapa?” tanyaku ingin tau.
Bisma
menatapku lebih dalam dari sebelumnya, dan tangannya memegang erat tanganku.
“Yang gue taruhin itu elo, dia mau ngerusak persahabatan kita,” terang Bisma.
Mataku
langsung membulat mendengar itu. Aku sedikit tak percaya perkataan Bisma dan
sedikit nggak ngerti. “Gue nggak ngerti sama apa yang elo omongin. Tapi yang
jelas, Morgan nggak kayak gitu orangnya. Elo nggak usah nyebar fitnah deh,”
kataku tak percaya.
“Mungkin
ini nggak masuk akal bagi elo. Soalnya elo nggak tau ceritanya. Tapi gue mohon
elo percaya sama gue,”
“Hhh...”
aku menghela nafas. “Yaudah, elo cerita dong elo taruhan apa sama dia?”
bentakku.
Bisma
menunduk. “Gue nggak bisa bilang sekarang. Suatu saat elo juga bakalan tau,”
“Gue
nggak percaya sama siapa-siapa disini. Asalkan elo jangan fitnah dia lagi,”
pintaku kasar.
“Aduuhhh....”
kata Bisma sambil menggaruk-garuk kepala nggak yakin untuk menerima
permintaanku. Dia menarik nafas panjang untuk menenangkan diri sebentar. “Oke,
asalkan elo jangan terlalu deket sama dia,” sahut Bisma memberi persyaratan.
“deal?” tanya Bisma sambil mengulurkan tangan.
“Deal,”
jawabku, lalu menjabat tangan Bisma.
***
Esokannya
sepulang sekolah, aku sedang berjalan dikoridor sekolah seorang diri. Pengennya
sih ada temen, tapi Fika dan Bisma nggak bisa pulang bareng hari ini. Fika, dia
harus rapat OSIS. Sedangkan Bisma, dia harus latihan basket. Mau nggak mau deh
harus pulang sendiri.
Saat
udah sampe depan gerbang, tiba-tiba ada mobil berhenti didepanku. Aku agak
sedikit terheran. Sepertinya mobil ini udah nggak asing bagiku. Aku merasa
pernah melihatnya, tapi aku lupa kapan dan dimana. Pemilik mobil itu langsung
membuka jendela mobilnya. Dan akhirnya aku tau siapa pemiliknya.
“Bareng
gue aja yuk,” ajaknya.
“Nggak
usah. Gue dijemput kok,” jawabku menolak ajakan Morgan.
“Beneran
dijemput? Atau cuma alasan?” tanyanya nggak percaya denganku.
Aku
memang berbohong sih. Karena aku teringat perjanjian aku dengan Bisma, aku
nggak boleh terlalu dekat dengannya. Tapi aku juga nggak tau kenapa Bisma
meminta hal itu padaku. Sekarang aku bingung harus jawab apa. Nggak sengaja ada
sesuatu yang terlintas dipikiranku. Aku langsung mengambil handphone dan
mengetik nomor ka Rangga, lalu memencet tombol panggil. Aku sengaja melakukan
ini, kali aja ka Rangga mau menjemputku. Jadi, aku nggak harus pulang dianter
Morgan. Secara nggak langsung, ini penolakan secara halus.
“Hallo?
Tumben telfon, ada apaan?” tanya ka Rangga.
“Hallo..
eh, elo katanya mau kasih tumpangan sama gue. Kok gue tunggu dari tadi tapi
elonya nggak dateng-dateng sih?” sahutku.
“Loh?
Kapan gue bilangnya?” tanya ka Rangga bingung.
“Oke,
gue tunggu ya,” kataku, lalu mematikan handphone.
Dari
tempat lain, ka Rangga menggelengkan kepala aneh. “Wah, ini orang kesambet.
Biarin deh dia pulang sendiri,” ucap ka Rangga.
“Tuhkan,
gue udah ada barengannya. Mendingan elo pulang duluan deh!,” ucapku ke Morgan
yang masih menunggu jawabanku.
Tiba-tiba
motor Dicky datang, langsung aku berdiri didepannya hingga dia berhenti. Lalu
dia melepas helmnya. Udah terlihat kalo dia pengen marah denganku, aku berusaha
mencegahnya. Aku berlari kearahnya lalu merangkul tangannya. Padahal aku nggak
sudi banget megang tangan dia, kalo nggak dalam keadaan darurat aku nggak mau
lakuin ini. Dicky kaget melihat tingkahku yang tiba-tiba langsung merangkulnya.
Biarkan aja deh, untuk saat ini aku harus pasrah.
Aku
tersenyum paksa. “Elo liat kan Gan, kalo gue udah ada barengannya?” tanyaku
memastikan dia untuk pergi. “Dick, elo katanya mau anter gue, kok lama banget sih?
Gue dari tadi udah nunggu tau,” sahutku.
Dicky
makin kaget aja. “Hah?” sahutnya lagi nggak percaya. Aku pun langsung menginjak
kakinya, mukanya langsung berubah merah. “I...i...iya dia mau bareng gue. Tadi
gue udah ngajakin dia kok,” kata Dicky.
Morgan
mengangguk dan menerimanya. “Oke kalo gitu. Gue duluan ya, bye Eni,” ucapnya
berpamitan.
Aku
dan Dicky terus memantau kepergian Morgan sampe udah jauh. Setelah udah nggak
terlihat lagi, aku langsung melepas tanganku lalu kembali jutek seperti
biasanya kalo ada Dicky.
“Elo
ngapain sih pake halangin jalan gue? Pake suruh boong lagi! Kaki gue juga
diinjek, sakit tau! Nggak tau kata sakit apa?!” bentak Dicky, aku usaha menahan
diri buat nggak marah juga sama dia. Lama kelamaan males juga cari masalah sama
dia. Toh, dia juga tetep nyolotin.
“Sorry,
sorry. Tadi terpaksa tau, kalo yang lewat Ilham, gue juga nggak bakalan
halangin elo,” jawabku.
“Awas
lo, kalo lain kali pake gue lagi buat boong,” ujar Dicky memberi peringatan
padaku sambil memakai helmnya lagi.
Aku
mengangguk lemah perkataannya. Lalu aku langsung pergi dan berjalan mencari
angkutan yang lewat. Aku berjalan sambil menendang botol kaleng yang ada
dijalan. Kalo gue nggak keinget perjanjian gue sama Bisma, gue mau deh dianter
sama Morgan daripada harus nyari angkot yang dari tadi nggak dateng-dateng.
Lagian apa salahnya Morgan sih? Keliatannya dia juga baik kok. Bisma-nya aja
kali yah yang lebay?, batinku masih memikirkan masalah tadi.
Tiba-tiba
ada sebuah motor berhenti disampingku. Dia membuka kaca helmnya.
“Mau
gue anter?” tanyanya ingin memberi tumpangan.
“Nggak
perlu. Gue bisa pulang sendiri,” jawabku jutek.
“Gue
lagi baik salah, gue lagi nyolot juga salah. Mau elo apaan sih? Apa perlu gue
nyolot terus sama elo? Oh mungkin, elo emang keturunan nenek lampir, yang
dikit-dikit ngomel. Kalo nggak, jutek. Gue bingung sama Bisma, Fika, kok dia
mau yah temenan sama nenek lampir kayak elo?” cerocos Dicky menghinaku.
Mataku
langsung meloto tajam padanya. “Eh, gue lagi nggak mau berantem ya sama elo.
Emangnya elo belom puas tiap hari berantem sama gue?” balasku.
“Sekarang
elo tinggal pilih aja. Mau gue anter atau gue ajak ribut terus?” katanya
memberi pilihan.
“Nggak
ada pilihan yang laen?” tanyaku lagi.
“Nggaklah.
Elo tinggal pilih aja,” ucapnya santai.
Aku
rada manyun. “Yaudah deh,” tuturku lalu naik ke motor ninja hijau miliknya.
Dicky
tersenyum senang. “Gitu dong. Masih untung ada yang mau anter elo pulang,”
tambahnya.
“Elo
ngomong kayak gitu lagi, gue turun nih,” kataku kesal.
Dicky
cengengesan nggak jelas. “Jangan dong, Ni. Gue kan cuma bercanda, gitu doang
ngambek,” ucapnya lalu memberi helm cadangannya padaku. “Nih pake,” tambahnya
lagi. Aku pun langsung memakai helm yang dia berikan. Dicky mulai menyalakan
motornya. “Pegangan,” suruhnya.
Aku
menggeleng nggak mau. “Nggak ah. Males gue megang-megang elo,” jawabku
ogah-ogahan.
Dicky
pun langsung menancapkan gas dengan kencang. Aku kaget banget, sampe nyaris jatoh
ke belakang. Untuk cari aman, aku memeluk erat pinggangnya. Ternyata dia jago
juga ngebut. Wah, aku harus hati-hati deh kalo diajak bareng lagi sama dia.
Dicky tersenyum bangga karena berhasil bikin aku memeluknya. Sedangkan, aku cuma
bisa mencibir kesal.
Licik
banget sih nih orang. Kalo nggak karena gue nggak mau terbang, gue juga nggak
mau meluk dia. Ah bener-bener deh, cari kesempatan banget si Dicky. Apa sih mau
dia? Aneh, batinku ngedumel.
Lama
kelamaan, aku makin nyaman bisa seperti ini dengan Dicky. Aku merasa seperti
mendapatkan sesuatu itu kembali. Tapi aku juga nggak tau sesuatu apa yang aku
rasakan sekarang. Aku begitu nyaman bisa memeluknya. Saking terlalu nyaman, aku
terlelap.
“Rumah
elo dimana?” tanya Dicky memulai pembicaraan. Tapi tak ada jawaban dariku.
Dicky merasa ada yang aneh, dia lalu memberhentikan motornya di pinggir jalan.
Dicky agak sedikit menoleh kebelakang sambil menggerakkan pundaknya. “Eh, rumah
elo dimana? Masa gue bawa elo ke TPU? Emangnya elo ada temen disana?” sahutnya
meledekku. Tapi masih aja nggak ada jawaban.
Dicky
terus menghentakkan pundaknya sampai akhirnya dia menyadari kalo aku tertidur.
Dia menabok kepalanya sendiri. “Ya ampun, taunya nih nenek lampir tidur?
Nyusahin banget sih nih anak. Gue bawa kemana dong?” ucapnya kebingungan.
Dia
mengambil handphone di sakunya, lalu mengetik sebuah nomor dan menelponnya.
“Hallo...”
***
Dicky menghentikan motornya didepan
sebuah rumah yang mewah. Dia lalu membuka helmnya. Lagi-lagi dia menggerakkan
pundaknya untuk membangunkan aku dari tidur.
“Woy bangun! Udah sampe,” ujarnya
kesal.
Aku
pun jadi terbangun. Aku kaget kalo aku baru aja tidur dipelukkan. “Kok gue bisa
tidur?” tanyaku.
“Mana
gue tau. Intinya elo bisanya bikin orang susah,” katanya sambil menegaskan
kata-kata –orangsusah- yang baru aja dia katakan.
“Sorry,
sorry. Gue kecapekan banget,” ujarku bohong. Padahal itu gara-gara aku terlalu
nyaman ada dipelukannya. Tapi ngapain aku ngaku itu semua sama tukang nyolotin
kayak dia? Nggak deh, jangan harap.
“Yaudah
turun lo,” bentaknya.
Aku
pun turun dari motornya dengan jutek. Tiba-tiba ka Rangga keluar dari balik
pintu rumah, lalu membuka pagar rumah dengan gegabah dan terlihat sedang
senang.
“Ni,
gue udah dapet kabar tentang Ichy,” sahutnya tanpa mengetahui keberadaan Dicky
yang masih ngajak ribut sama aku. Dicky menunduk.
Aku
menoleh ke ka Rangga. “Udah gue bilang kan sama lo, jangan bahas itu lagi.
Males tau nggak, capek!!” teriakku.
“Iya-iya.
Tapi awas aja lo kalo nanya kabar dia sama gue,” balas ka Rangga.
“Suka-suka
gue,” sahutku lagi. Lalu ka Rangga masuk lagi ke dalam rumah.
“Ternyata
elo emang hobi ngomel ya. Jadi nggak salah dong gue panggil elo nenek lampir?”
tambah Dicky yang sejak tadi menguping pembicaraanku dengan ka Rangga.
Aku
menoleh padanya. “Ah suka-suka elo deh. Males gue berantem terus sama elo.
Thanks ya,” kataku yang langsung kabur masuk ke dalam rumah.
***
Keesokannya,
aku berangkat ke sekolah terpaksa naik angkutan. Hari ini ka Rangga nggak bisa
anter aku. Banyak alesan yang dia buat biar menghindari itu. Padahal aku tau
banget, dia cuma nggak mau kayak supir. Lagian sejak kapan aku anggap dia
supir? Aku anggap dia kakak kok. Dia aja yang lebay. Yaudah deh, mau nggak mau
harus terima.
Setelah
berpamitan dengan mama dan papa, aku berjalan keluar pagar. Tanpa ku sangka,
mobil Morgan udah terparkir di depan rumahku. Ternyata dia nggak sendirian,
disampingnya duduk seorang cowok seperti keturunan China. Aku agak sedikit
bingung apa mau Morgan.
“Elo
ngapain disini?” tanyaku.
“Gue
mau nganter elo lah. Elo hari ini nggak ada barengan kan? Udah deh, elo ngaku
aja sama gue. Oh iya, elo jangan kege-eran dulu. Gue sebenernya nggak sengaja
lewat. Padahal gue cuma mau nyamper temen gue ini. Tapi karena rumah dia sama
rumah elo nggak begitu jauh, yaudah gue kesini aja. Kali aja elo butuh
tumpangan hari ini,” ujar Morgan menjelaskan.
Mampus
deh gue, kayaknya gue nggak bisa boong sekarang. Mau nggak mau gue harus terima
deh tumpangan dia. Yaudah deh nggak apa-apa daripada gue harus nunggu angkutan
yang lamanya minta ampun, batinku mempertimbangkan ajakan Morgan yang terkesan
tau keadaanku sekarang ini.
“Oke
deh, gue bareng elo,” jawabku lalu masuk ke dalam mobil, lebih tepatnya di
samping bangku supir yang duduki Morgan.
Setelah
Morgan menancapkan gasnya, ada sesuatu yang mengganjal dihatiku. Nggak tau apa
itu. Ditambah lagi temannya Morgan ini ngeliatin aku dengan berlebihan. Aku
jadi kikuk nggak bisa bertingkah. Wajahku pucat pasi.
Morgan
sesekali menatapku kebingungan. “Ni, elo kenapa? Kok pucat?” tanyanya.
Aku
menoleh padanya dan tersenyum paksa. “Gu..gue.. nggak apa-apa kok, Gan,”
jawabku singkat.
“Bagus
deh. Oh iya, kenalin ini temen gue, namanya Rafael. Rafa, kenalin ini Eni yang
sering gue ceritain sama elo,” ujar Morgan memperkenalkan kami.
Aku
menatap Morgan heran. “Cerita tentang gue?” tanyaku heran, lalu menunjukkan
telunjukku ke arah Rafael yang sedang tersenyum aneh. “Ke dia? Emangnya elo
cerita apa sama dia tentang gue?” tanyaku lagi.
Morgan
menggelengkan kepala. “Bukan apa-apa ko, Ni. Cuma cerita pas kita pertama kali
kenalan di taman aja,” jawabnya. Aku pun mengangguk.
Rafael
mengulurkan tangannya. “Kenalin, gue Rafael,” sapa Rafael.
Aku
menyalaminya. “Gue Eni,” balasku lalu melepas salamannya.
Selama
di perjalanan, kita ngobrol dan ketawa-ketawa bareng. Sampe nggak sadar kalo
udah sampe di depan sekolahku. Aku pun berterima kasih dan berpamitan, lalu
masuk ke sekolah.
Sesampainya
di kelas, aku melihat sesuatu yang nggak aku bayangin sebelumnya. Dicky
kelihatan lagi nggak bersemangat hari ini. Reza yang duduk disampingnya seperti
sedang menenangkan hati Dicky. Aku nggak tau apa yang lagi terjadi. Dengan
langkah diperlambat, aku terus menatap mereka berdua terutama Dicky.
Dicky
kenapa ya? Kok kayak orang lagi galau gitu? Apa dia lagi ada masalah ya?,
batinku khawatir. Aku pun duduk di tempatku. Aku baru menyadari hal yang nggak wajar didiriku, aku langsung
menggelengkan kepala. Eni, elo kenapa harus mikirin dia sih? Dia itu nyolotin
nggak baik kalo di baikin. Dia juga sering ngajak ribut elo kok. Kenapa elo
harus khawatirin dia sih? Kalo dia lagi galau bagus dong! Jadinya elo nggak
usah repot-repot marah pagi ini, batinku ngedumel.
Aku
memegang telingaku lalu menggelengkan kepala dan menutup mata dengan emosi.
“Aaaarrrggghhh.....” teriakku.
Semua
mata yang tadi sibuk dengan kegiatannya masing-masing, sekarang beralih
menatapku. Aku membukakan mataku perlahan. Udah ada Bisma yang duduk
disampingku dengan tampang aneh.
“Elo
kenapa? Kok pagi-pagi udah teriak aja? Ada masalah? Cerita aja sama gue,”
sahutnya memulai pembicaraan.
Aku
menatap sekelilingku lagi, semua udah beralih ke kegiatannya masing-masing
lagi. Aku lalu mengelus-elus dadaku, selamat. Tatapan ku tiba-tiba berhenti di
belakang, dimana Dicky sedang duduk. Dia masih dengan keadaan yang tadi, diam
dan murung. Biasanya, dia langsung marah dan membentakku lagi. Tapi ini beda
banget dari kebiasaan dia sebelumnya. Aku masih terheran-heran.
“Hhh....”
Bisma menarik nafas. “Eni, elo nggak apa-apa kan?” tanya Bisma lagi dengan nada
sedikit ditekan.
Aku
menoleh padanya. “Nggak, nggak apa-apa,” jawabku cepat.
Bisma
menatapku tak yakin. “Bener?” tanyanya lagi.
Aku
tersenyum dengan agak sedikit terpaksa. “Iya, Bisma. Udah deh, jangan
khawatir,” ucapku berusaha untuk menenangkan Bisma biar nggak bertanya itu lagi
yang udah bikin aku malu gara-gara diriku sendiri.
“Oke
deh, gue percaya. Oh iya, nanti malem elo sibuk nggak?” tanya Bisma.
Aku
berfikir sebentar. “Hhhmm.... kayaknya nggak ada deh. Kenapa emangnya?” tanyaku
lagi.
“Elo
mau dinner nggak sama gue?” ajaknya langsung dengan mantap.
Aku
kaget sampe melotot padanya. “Elo ngajak gue nge-date?” sahutku.
Bisma
mengangguk semangat. “Iya, nge-date. Elo mau nggak? Kalo nggak mau juga nggak
apa-apa sih,” tambah Bisma.
“Gue
pertimbangin dulu ya!,” ucapku agak sedikit nggak enak sama Bisma.
Tiba-tiba
Fika datang dari balik pintu kelas, lalu berjalan menuju aku dan Bisma dengan
senyuman yang cerah.
“Hai,
lagi pada ngomongin apa nih? Kayaknya serius. Boleh tau nggak? Hehe,” sapa Fika
bercanda, tapi bagiku dia serius. Karena aku tau, mungkin aja dia cemburu sama
aku yang lagi ngobrol berdua sama Bisma.
Bisma
tersenyum melihat kedatangan Fika. “Gue lagi ngajak Eni nge-date nanti malem.
Elo setuju kan?” ujar Bisma semangat dan gembira, bikin beberapa orang di kelas
denger.
Fika
begitu kaget saat mendengar kata-kata Bisma barusan. Dia menatapku tajam dan
penuh kebencian. Aku juga kaget Bisma bisa berkata seperti itu sama Fika. Apa maksud
dia sih? Dia nggak tau apa, dengan cara dia bilang ini semua ke Fika, dia udah
ancurin persahabatan aku sama Fika!
“Hah?”
teriak Fika nggak percaya dan cuma itu yang bisa keluar dari mulutnya.
“Iya,
kan elo pernah bilang sama gue. Kalo gue seneng, elo juga ikut seneng. Elo
seharusnya seneng dong! Soalnya ini yang bikin gue seneng,” tambah Bisma.
Tatapanku
beralih ke Dicky dan Reza yang berjalan keluar kelas. Ah masa bodo deh,
sekarang gue harus ngurusin ini dulu! Gimana caranya biar Fika nggak marah sama
gue, batinku tak pedulikan Dicky lagi untuk sementara.
Fika
dengan marahnya berjalan keluar kelas dan hentakkan kaki yang keras. Bisma
bingung melihat tingkah Fika yang sebelumnya ceria, sekarang marah-marah nggak
jelas.
Aku
menatap Bisma geram. “Aduuhh, Bisma. Elo seharusnya nggak bilang itu sama dia.
Elo salah besar kalo harus bilang ini sama Fika,” bentakku lalu bangun dari
kursi dan berlari keluar kelas menyusul Fika.
“Fika!!!!”
teriakku sambil berlari mengejarnya. Tapi dia terus berlari tanpa memperdulikan
aku. “Fika!!!! Gue mau jelasin semuanya!!!” teriakku lagi, dan masih nggak ada
jawaban dari Fika.
“Elo
mau kejar dia sampe benua Eropa juga nggak bakalan kekejar,” teriak seseorang
seperti berbicara padaku. Aku berhenti lari lalu langsung mencari sumber suara
itu. “Gue disini,” katanya lagi yang ternyata ada disampingku.
“Mau
elo apaan sih? Gue kira urat omel elo udah ilang, taunya masih ada? Kenapa
nggak ilang aja sih? Gue males debat terus sama elo. Apalagi debat yang nggak
semestinya di debatin,” ocehku.
Reza
menepuk punggung Dicky, berusaha menyabarkan hati temannya ini. “Elo juga sih
Dick, seneng banget gangguin dia.”
***
Sepulang
dari sekolah aku melihat Fika sudah berdiri di depan gerbang, lalu dengan
setengah berlari aku menghampiri Fika. “ Fik tunggu, gue mau ngejelasin
semuanya.”
Fika
memandangku sinis. “ Apa yang perlu elo jelasin ke gue? Ini semua udah jelas
Bisma suka sama elo, sedangkan gue apa Ni? Elo tau gue suka sama Bisma tapi elo
malah setuju buat nge date sama Bisma elo itu bener-bener jahat Ni gue nggak
nyangka elo sejahat ini sama gue.” jawab Fika ketus lalu jalan meninggalkanku
yang memanggil namanya.
Selama
di jalan Fika hanya diam saja. “ Kenapa elo tega banget sih Ni sama gue, gue
salah apa sama lo sampe-sampe elo mau ngerebut Bisma dari gue. Gue benci sama
elo Ni gue benci.” Kata Fika sambil menendang kaleng minuman.
“Aduhhh
....” kata orang yang kena timpukan kaleng minuman dan orang itu melihat
ternyata seorang gadis. “ Woyy tunggu lo.” Teriak cowok itu.
Fika
pun berhenti untuk melihat siapa yang memanggilnya dan betapa terkejutnya Fika
ternyatta orang tersebut adalah Morgan. “ Morgan?”
Morgan
pun tak kalah terkejut dan bercampur bahagia. “ Fika? Ngapain elo jalan sendirian?”
tanya Morgan khawatir melihat mata Fika bengkak.
“
Oh, gue lagi pengen sendiri aja. Elo sendiri ngapain disini?” ucap Fika parau.
“
Gue tadinya mau marahin elo gara-gara elo udah nimpukin gue make kaleng bekas
minuman.” Jawab Morgan.
Fika membelalakan matanya. “ Upss, sorry Gan gue
nggak tau tadi gue lagi kesel aja makanya gue tendang aja itu kaleng beka.
Sekali lagi sorry ya emang yang sakit di bagian mananya.?” Tanya Fika khawatir.
Morgan
hanya menggelengkan kepalanya. “ Nggak apa-apa kok Fik, lagian juga ntar
sembuh. Tapi dengan satu syarat.?” Kata Morgan.
“Syarat
apa?” tanya Fika bingung.
“Hmm..
ntar malem gue mau ngajakin elo dinner” jawab Morgan senang.
“Hmm...
yaudah deh jam berapa elo mau jemput gue?” tanya Fika lagi.
“
Jam 7 malem, yaudah sekarang elo gue anter pulang aja gimana?” tawar Morgan
lagi.